10 Perbedaan UGM & UI dari Sudut Pandang Mahasiswa Sejati

UGM UI Logos
Pic. Logo UGM dan UI

Kalo melihat judulnya,Β  pasti sebagian besar pembaca blog ini langsung sinis. (atau Anda juga salah satunya yang begitu?). Eits, jangan salah dulu mamen/bro/sis, gw gak bermaksud membanding-bandingin.
T: Kalo bukan membanding-bandingkan, trus apa?
Disini saya tegaskan dan tekankan, postingan ini tidak bermaksud membeda-bedakan mana yang terbaik diantara kedua Universitas di atas yang “katanya” 2 diantara sekian Universitas yang terbaik di Indonesia.
Kalo melihat diΒ  RANGKING ASIA tahun 2011, memang UI berada jauh sedikit di atas UGM. Tapi itu penilaian berdasarkan apa? Terlebih lagi, jaman sekarang survey-survey atau polling tak bisa dipercaya (bisa dibeli). Terserah Anda mau percaya atau tidak, kalo saya memilih untuk melakukan survey sendiri saja, lebih independent (tidak ada kepentingan) dan akurat, setidaknya menurut saya.
Berikut saya paparkan hasil survey dan investigasi saya selama lebih kurang 3 tahun (masing-masing di UGM dan UI). Jadi saya melakukan survey ini sudah 6 tahun (hampir 7 bahkan), gimana gak akurat. Dan saya mensurvey dari berbagai sisi untuk perbandingan, diantaranya:

1. Biaya Kuliah

Kuliah itu butuh duit, misalnya buat bayar gedung, beli jaket Almamater, biaya perpustakaan, biaya operasional pendidikan (BOP) dan sebagainya. UGM dan UI sama-sama universitas negeri, walaupun tak ada embel-embel “N” di belakang nama Universitasnya. Tau beda Universitas Negeri dengan Swasta? setau saya, sekarang hampir tak ada bedanya (sama-sama mahal biaya kuliahnya).
Denger-denger, biaya kuliah di UI lebih mahal dari pada biaya kuliah di UGM. benarkah? Ini saya dapat berkat tanya-tanya dan mengalami sendiri.

biaya kuliah
Pic. biaya kuliah

2. Biaya Hidup

UGM terletak di Sleman, Jogja, sedangkan UI terletak di Depok, Jawa Barat (walaupun ada yang di Salemba). Mau tak mau, mahasiswa yang kuliah di dua Universitas tersebut harus menanggung “Biaya Hidup” di tempatUniversitas tersebut berada, tul gak? kan gak mungkin juga, kita kuliah di UI tapi kita tinggal di Jogja (tiap hari bolak-balik, mungkin sih, kalo Ortu lu pengusaha).
Menurut pengamatan saya, biaya hidup di UI lebih mahal dari pada biaya hidup di UGM. Mungkin ini juga sebab mengapa biaya kuliah di UI lebih mahal.

biaya hidup
Pic. biaya hidup

3. Pergaulannya

UGM mempunyai mahasiswa yang universal, terdiri dari berbagai suku, ras dan agama, yang datang dari segala penjuru Indonesia. UI pun begitu. Karena letak topografisnya yang berada di Jogja (ada Keraton), maka mahasiswa UGM kena imbas menjadi sopan, santun, dan ramah karena pengaruh adat Jawa. Anak UGM masih menjunjung tinggi senioritas/hormat kepada yang lebih tua. Memanggil kakak angkatan dengan sebutan mas/mbak.
Berbeda dengan UI. Mahasiswanya gaul-gaul, ngomong pake bahasa lu gue lu gue (tidak sesuai dengan EYD) yang terkesan kasar. Anak UI tidak memandang senioritas. Lu boleh memanggil kakak angkatan dengan sebutan sejawat (Bro, Sis, elu, gue, dll).
Mahasiswa UGM lebih sopan daripada mahasiswa UI.

pergaulan
Pic. Pergaulan

4. Lingkungan Kampusnya

UI mempunyai lingkungan kampus yang bersahabat dan asri. Aksesnya tidak tak terbatas, maksudnya, hanya orang yang berkepentingan yang akan masuk lingkungan kampus UI, karena jalanan UI bukan jalanan umum. Tata ruang kampus sudah terkelola dengan baik.
Sedangkan UGM, kampusnya mencar-mencar (tapi masih satu kawasan), hanya saja dipotong oleh sebuah jalan Kabupaten (jalan Kaliurang/Jakal) yang merupakan jalanan umum. Tapi akhir-akhir ini, UGM mulai berbenah dengan melakukan pembatasan masuk pada daerah-daerah tertentu.
Lingkungan UI lebih kondusif & nyaman daripada lingkungan UGM.

Lingkungan kampus
Pic. Lingkungan kampus

5. Lokasi kampus

Kalau berbicara mengenai lingkungan kampus, UI lebih baik daripada UGM. Akan tetapi, jika berbicara mengenai lingkup yang lebih luas, UGM jelas lebih baik. Ini tidak terlepas dari posisi UGM yang terletak di Depok, Sleman, Jogja, sementara UI terletak di Depok, Jawa Barat. Sama-sama Depok, tapi beda abies.
Jogja, seperti yang sama-sama kita kenal adalah kota yang nyaman, dan Jogjapun punya slogan “Jogja Berhati Nyaman”. Memang, seperti yang telah saya alami, Jogja jauh lebih nyaman ketimbang Depok. Tanya saja sama orang yang pernah ke sana.
Depok, karena merupakan kota satelit, kondisinya 11 12 dengan jakarta. Hampir setiap hari macet (meskipun Jogja juga demikian), kejahatan seringkali terjadi. Jogja bener-bener aman.
Lokasi UGM lebih kondusif & nyaman daripada lokasi UI.

location
Pic. Location

6. Mahasiswi (ladies)

Mahasiswi
Pic. Mahasiswi

T: Ini kategori apaan? apa ada penilaian seperti itu?
J: ADA, ini buktinya…
Entah mengapa setelah saya amati sekian lama (hampir 7 tahun), mahasiswi UI itu kebanyakan lebih “bening-bening” daripada mahasiswi UGM. Kenapa?
Jadi gini, mungkin itu akibat posisi strategis dari UI yang deket dengan Jakarta (Ibukota) yang membuat mahasiswi UI lebih melek fashion/mode.
T: Eh, tapi kalo begitu, cakepnya gak alami dong?
J: Ya, mungkin saja begitu, yang tadinya rambut keribo bisa di rebonding, yang hidung pesek bisa dimancungin dll.
T: apa bedanya dengan mahasiswi UGM? sama aja toh? gak ketinggalan mode juga, kan ada internet.
J: gini deh biar adil, mahasiswi UI itu cakep-cakep dan mahasiswi UGM ayu-ayu. Terserah pilih yang mana.

7. Style & fashionnya

fashion
Pic. Style

T: Beneran dah, ini kategori apaan lagi, apa kamu gak takut dicerca mereka yang tidak setuju dengan perbandingan MORAL ini, ini bahaya loh?
Jawab: ini hanya selingan saja, cuma masalah style dalam berpakaian di kampus. Toh aturan di masih-masing daerah berbeda. Seperti: di Arab, wanita muslim harus pake cadar, sedangkan di Hawai pake bikini.
Mahasiswa/i UI lebih bebas dalam berpakaian ke kampus, boleh pake kaos oblong, sendal jepit ke toilet, rambut gondrong, atau gak mandi pagi.
Kalau mahasiswa/i UGM lebih sopan (karena peraturan), ke kampus wajib pake kemeja rapi, sepatu (no sandals), rambut rapi dan wangi. Meskipun di beberapa fakultas ada yang bebas juga.
UI tidak suka rapi, yang penting otak berisi. UGM suka rapi dan otak juga cemerlang.

8. Loyalty / Kesetiaan

Menurut yang saya amati, mahasiswa UGM lebih loyal dalam pekerjaan (jika diterima salah satu perusahaan, gak buru-buru pindah karena tergiur janji baru). Sedangkan mahasiswa UI kurang loyal (siapa berani bayar lebih tinggi, saya pindah).
Tapi ada bagusnya juga mahasiswa UI, mereka sangat menghargai tinggi dirinya, tidak terima begitu saja dengan apa yang terjadi pada dirinya. Tapi ini kayaknya tergantung individu masing-masing orangnya deh.

loyalty
Pic. Loyalty

9. Branding

Β WE ARE THE YELLOW JACKET

Kalo untuk masalah brand, UI lebih menggema. Apa-apapun di UI selalu disajikan dengan warna kuning. Mulai dari Almamater, Bus, bahkan sepeda dan gigi. UI sangat pintar menanamkan brand kebenak setiap orang. Sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan “We are the yellow jacket”.
Kalau berbicara perpustakaan yang terbesar se Asia Tenggara, UI lah yang punya. Lengkap pula dengan Starbucknya. Memang, UI terkesan sombong dengan brand-nya.
Sedangkan UGM lebih low profile. UGM katanya adalah kampus rakyat. Almamaternya aja warna Krem (Hijau bukan). Jangankan bus kampus, sepedapun cuma ada di gedung rektorat (cuma buat keliling-keliling di Gedung Rektorat), itupun sumbangan PT. Wismilak.
10. Masa Depan Lulusannya
Mahasiswa UGM dan UI yang sudah wisuda setelah 3 bulan setidaknya sudah dapat kerja (kerja ya, bukan duit). Karena secara gitu, kerja kan bisa apa aja. Kerja ada banyak. Cumaaaaaa, menghasilkan banyak duit gak?
Mahasiswa UGM dan UI kebanyakan sok jual mahal, pengennya dapet kerjaan yang gajinya gede. Mereka gengsi kerja kalo dibayar murah. Tapi kan wajar anak fresh graduate di bayar murah. Kalo gak mau di gaji murah, ya bikin perusahaan aja sendiri, jadi bos sendiri. Beres kan?
Mahasiswa UGM mentok-mentoknya kalo gak dapet kerja jadi Menteri, kalo mahasiswa UI mentok-mentoknya kalo gak dapet kerja jadi Wakil Presiden. Semoga. Wakakaka

future
Pic. Future

Conclusion:
Tapi apapun itu, secemerlang apapun otak lu, setinggi apapun IPK lu, sehebat apapun nama Universitas lu, Tapi kalo lu gak punya MORAL dan KORUP, mati aja, dari pada bikin malu Almamater.
Saran saya: Mending kuliah di ITB… hehehe :-p

(Visited 14 times, 1 visits today)

0 thoughts on “10 Perbedaan UGM & UI dari Sudut Pandang Mahasiswa Sejati”

  1. hahaha keren dah, yg pastinya klo mahasiswa UI orangnya lebih sombong-sombong apalagi wanitanya, beda sama anak UGM yg low profile dan tidak memandang orang dari kastanya…

      1. hehe di ui banyak kok yang gak sombong, semua tergantung orangnya. kalo agak hedon mungkin iya tapi kalo sombong jarang deh kayaknya hehe

  2. Saya pernah mengalami hidup di UGM dan di UI,,, di UGM itu emg lebih murah, tp beasiswa di UI LEBIH BANYAK dan LEBIH BESAR… sebandingkan,,, trus masalah riset UGM lebih ‘pelit’ uangnya, klo di UI uangnya turah2,,, klo masalah fasilitas UI lbh unggul,,, klo masalah lingkungan, di UI siapa pun boleh masuk kok g harus mahasiswa atau pegawai atau dosen,,,

    1. betul betul malah akses keluar masuk itu gampang, ke perpus UI baca buku pun boleh mau rekreasi juga boleh, pedagang asongan masuk aja boleh kok hehe

  3. masalah kerjaan kayaknya mahasiswa UGM lebih low profile dr pada mahasiswa UI, itu yg saya rasakan di kantor saya. Tapi masalah biaya hidup lebih murah di UI menurut gw, karena kalau gw kuliah di UGM mesti ngekos sedangkan di UI bisa Lajuh (Pulang-pergi dalam bahasa jawa) tiap hari.

  4. Lo profesinya apa selama investigasi beberapa taun? nanya ke siapa aja? gue rasa tulisan pny lo ada yang g sesuai fakta dan terkesan nyindir atau berat sebelah

  5. gw tambahin lagi, dari sisi ospeknya:
    UGM ospeknya meriah, seru, bahkan memecahkan rekor muri, simpel, cuma 4 hari,tapi gak ngasih manfaat bagi orang lain, cenderung buang-buang duit, tugas ospeknya masih kaya SMA yang pake pita lah, tali lah,kardus lah, intinya tugas ospeknya nggak rasional n gak penting.
    UI ospeknya lebih lama, dan ribet, gak semerih UGm, tapi lebih berkualitas, karena sudah gak ada tugas kayak SMA yang mnurut gw buang-buang duit, atributnya juga simpel, gak macem-macem, sbagai gantinya UI mengadakan baksos masal bagi seluruh maba berupa pengumpulan makanan pokok, so menurut gw lebih bermanfaat daripada buat atribu.t yang gak penting n buang-buang duit

    1. wah setuju banget. ospek UI emang lebih berkualitas soalnya saya ngerasain. hehehehe. temen saya juga ada yang di UGM dan lebih belibet gitu tugasnya sama kaya pas SMA.
      btw mau komen tulisan di atas, wah saya kalo kedokteran itu pakaiannya rapi-rapi loh mas, ga boleh pakai blue jeans dan baju kaos juga, sepatu pun mesti tertutup, sekedar menambahkan. Peraturan berpakaian itu tergantung fakultas πŸ™‚

  6. wihhh..
    kebetulan dulu saya kuliah di UI & istri kuliah di UGM.
    dua kampus ini hampir sama aja. sama2 bagus.
    klo soal kerapihan, etika, sopan-santun itu tergantung individu masing2.
    beasiswa : sama2 mudah & banyak (saya&istri kuliah pake beasiswa)
    fasilitas : karena UI berada dekat dengan ibukota negara, jadi lebih lengkap, apa aja ada.
    biaya hidup : hampir sama aja. tapi pilihan alternatif makanan murah gak sebanyak jogja (sekitaran UGM), kost/asrama : untuk kelas setype antara jogja & depok sama gak jauh beda.
    yang menurut saya adanya perbedaan.
    rata2 mahasiswa UI sudah tamat kuliah kurang tertarik masuk ke birokrasi ato jadi PNS, sedangkan UGM lebih banyak tertarik masuk ke birokrasi ato PNS. ini menurut saya dari bbrp teman saya yang di UI maupun UGM. (cmiiw)
    itu pun sedang saya analisa. apa perbedaan paradigma dari UI dan UGM ?
    mreka punya kultur, budaya, sejarah masing2

  7. Terima kasih atas perhatiannya terhadap kampus UI. Semoga kedepannya UI bisa berbenah diri agar lebih baik lagi. UGM sama UI punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan apa pun itu seharusnya tidak menjadi bahan untuk saling menjatuhkan.

  8. ANDA COMMONSENSE! riset tak terbukti dengan data. asal jeblak……….asal tau di UI ada KKNyata ke pelosok dan perbatasan Indo……semua tergantung orang

  9. hahaha….commentnya agan bubo aneh, org ini cuman anekdot sodara afret nobel dan bukan karya ilmiah tapi terlalu dianggap serius sama beliau. Mungkin itu juga karena dia hanya merasakan kehidupan di satu kampus aja. Tidak seperti sodara Afret Nobel.

  10. hahaha,,,
    tpi gag sgitunya jg kali bro,,di UI tu semua orang bleh masuk kok,,malahan kalau hari libur di jadiin tempat jogging ma masyarakat and mahasiswa,,
    masalah transportasi memang ada sepeda and bus kuning ,free lagi,soalnya klau gag da tu, mahasiswa yang g pkek kndaraan gag bkal bsa nyampek fkultas msing2,mklum jauh2,,
    Tuitionnya jga gag mhal2 amat bila dbandingkan dgn fasilitas yg diberikan,
    Apalgi jka dibandingkan international university di negara2 lain,,murah bgtt biaya di UI,,pmbangunannya jg brjalan truzz,,,
    Akses kerja serta link2nya jg lbih mudah and banyak,ya mungkin krena dket ibu kota Jakarta tercinta,,
    untuk lokasi jgan salah yaaa,,UI kndusif bgt brooo,gag da mcetkok lau uda diwilayah kmpus,gag seperti yg agan bayangin ,,,
    Yaa istilahnya UI tu kampus di tengah hutan kota,,,

    1. Soalnya penulisnya bukan lulusan UB, sedangkan yg diamati adl kampus yg pernah menjadi tempat belajar penulis. πŸ™‚

  11. wah! Sangat Membantu Kak..
    Saya sih niatnya mau kuliah di UGM, soalnya pertimbangan-pertimbangan Jogja lebih nyaman daripada Depok.
    Terus, Alasan lain sih. soalnya saya suka banget merantau ke tempat-tempat jauh, sejak kecil. πŸ˜€ Terimakasih kak referensi nya!

  12. Wah baru nemu artikelnya.
    Saya sebelum masuk UI juga ngeri dengan biaya. Tapi ternyata ga sengeri itu ko, Kalau dari jalur Reguler Anda bisa memilih jalur BOP Berkeadilan kok. Jadi bayar BOP sama UP sesuai dengan kemampuan orang tua. Saya saja BOP yg harusnya 7.5 jt jadi hanya 1.5jt. dan UP yg harusnya 25jt jadi 5jt.
    FYI tahun ini UI bebas biaya UP loh. silahkan saja buka situs penerimaannya.
    Jadi jika ingin berkuliah tapi bentrok biaya ada baiknya jangan panik. karena tiap univ. punya kebijakan sendiri.
    πŸ™‚

  13. Saya sih setuju sama kalimat paling terakhirnya mas, mending kuliah di ITB aja. Hahaha. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, tapi menurut saya, keduanya sama aja sih mas. Sebagai universitas masih menganut filsafat menara gading. Fokusnya masih gimana caranya menghasilkan intelektual dan birokrat yang ‘membumbung tinggi’, bukan membuat inkubator-inkubator yang dapat melahirkan dan membina start up company/entrepreneurial training berbasis penemuan mahasiswa dan dosennya sendiri dan terlibat langsung membantu persoalan masyarakat. Singkatnya, mestinya kualitas universitas itu dinilai bukan dari berapa jumlah alumninya yang bekerja di perusahaan besar atau jadi pns atau jadi menteri, tapi dari berapa banyak jumlah alumninya yang berhasil membuat perusahaan-perusahaan baru/me-reform perusahaan lama menjadi baru. Jadi mindset yang kebentuk selama kuliah bukan lagi melulu abis lulus cari kerja dst, tapi abis lulus saya bisa membangun sesuatu yg baru berupa apa nih? Bentuk perusahaan apa yg kira2 sanggup menjawab tantangan solusi bagi masyarakat? Sejauh ini saya lihat sih baru ITB yang pake penanaman mindset seperti itu. Makanya alumninya kan pendiri & pemilik berbagai perusahaan mulai dari oil & gas (Medco), real estate (Ciputra), teknologi komunikasi, kontraktor, sampe teh sosro, sekolah musik (Purwacaraka), griya pijat yang cabangnya nyebar di seluruh indonesia, pioneer bimbingan belajar (GO dan SSC) dan sutradara segala macam Joko Anwar.
    Saya pikir kalo semua universitas menanamkan pola pikir seperti itu, wah dijamin indonesia bakal 10x lebih cepat kemajuannya mas, nggak muter-muter di persoalan yg sama terus: birokrasi dan mental ketidakmandirian. Tingkatkan kualitas dari yang paling dasarnya dulu: cara berpikir dan sistem pendidikannya. Jadi bukan dengan menggandeng banyak2 program dual-degree dengan universitas luar (seperti UGM) atau bikin perpustakaan mewah (UI) untuk mengejar akreditasi internasional semata πŸ˜›

    1. Wow, komentarnya panjang banget. saya jadi bingung mau balas bagian yang mana.
      Saya gak suka sebut-sebut merek. Tapi tak apalah, ini jamannya demokrasi, bebas mengeluarkan pendapat yang penting sopan.
      Ada benernya juga Mbak Miriam ini. Pendidikan di kampus-kampus kita masih mengarahkan gimana agar lulusannya cepat dapat kerja, bukan membuka lapangan pekerjaan sendiri. Tapi kembali kepada orangnya sendiri, ada juga yang berpikiran seperti itu (membuka lapangan kerja sendiri), mungkin jalan yang ditmpuhnya saja sedikit berbelit-belit.
      Itu karena kurikulum kampus memang begitu kali Mbak. Lain halnya dengan kampus yang memang diperuntukkan bagi orang yang ingin jadi pemimpin perusahaan, entrepreneur atau wirausaha. Udah ada jalannya masing-masing.
      Saya tidak menganggap kampus yang satu labih baik dari yang lainnya. Semua terserah yang menilai.
      Btw, tengkyu atas komentarnya.

  14. anak UGM loyal nya teruji ???
    wkwkwkwk….
    ini penelitiannya ngelihat siapa ?? yakin nih πŸ˜›
    temen2 gue seangkatan biasa banget tuh tiap tahun pindah kerja. loyalitas is bullshit.
    dimana ada yg gaji gede itulah yang diincer. haha πŸ˜›
    dari jaman kuliah no 8 itu juga yg masuk ke kepala gue. kalo anak UGM itu loyal-loyal. dan anak ITB/UI suka pindah2.
    padahal nyatanya ya sama aja. namanya juga mau nyari penghasilan lebih tinggi, ya pindah2 solusinya, πŸ˜›

  15. wah, untung liat blog ini. aku juga lagi milih-milih Universitas. bonyok sih nyuru UGM lebih deket dan biaya hidup lebih murah. tapi pengen juga di UI fasilitasnya banyak, tapi teralu jauh dan kalo dipikir biaya hidupnya pasti lebih mahal. maklum saya dari Bali, jadi lebih deket jogja πŸ˜€

  16. mending hapus aja nih artikel.. buat apa coba? kagak akurat… lu bener2 gak nunjukkin kualitas lu.. dasar sampah..

  17. gampang banget mas…
    bagian lulusan UGM loyal-loyal, itu aja dah gak akurat.
    gak akurat nya pake banget lagi….
    lulusan UGM yang loyal itu yang jadi PNS.yang jadi dosen. lah yang jadi dosen aja banyak yg ga loyal,
    dapet tugas belajar ampe S3 di luar negeri, habis selesai gak mau pulang. itu banyak. gak cuma 1-2….
    tapi gue setuju.
    mending kuliah di ITB… udah kerasa lah hegemoni ITB di semua bidang kerja…

  18. Sifat, gaya bicara, gaya busana, kesetiaan, idealisme, dan lain-lain hampir pasti berubah ketika sudah berada di lingkungan kerja. Pengecualian bagi beberapa orang spesial.
    6,5 tahun kuliah? Anda mahasiswa tingkat S (4++ saja tidak cukup untuk menggambarkan senioritas Anda). πŸ™‚
    Referensi: pengalaman pribadi

  19. maaf sebelumnya ya tapi kok saya tidak menemukan sisi positif dari UI ya mas,bukankah anda alumni sana dan seharusnya anda menjaga nama baik dari almamater anda?
    kalau boleh mau meluruskan sedikit..untuk soal biaya kuliah,kalau ngambil paralel jelas mahal (sangat).dimanapun,ga cuma di UI.tapi UI punya banyak beasiswa kok,ga sedikit juga yg dapet bidikmisi.juga ada sistem BOP-B,saya juga dapet.UP saya cuma 4juta dan semesteran 1,5juta.masih bisa dijangkau,dan mulai tahun ini UI bebas UP karna dibayar oleh pemerintah.terus biaya hidup,tergantung individunya mungkin mas.baik UI atau UGM sama aja,kalu tiap hari maunya di mc.D,hanamasa,starbuck jelas mahal.di UI banyak pedagang makanan yg murah,sekali makan bisa cuma 4rb sudah nasi,lauk,sayur.kampus UI juga terbuka buat umum ko,yg boleh masuk ga cuma orang2 yg berkepentingan,tapi Ui juga buat jalan umum mas.bahkan kalo sore dan weekend buat rekreasi keluarga,jogging,olahraga.lokasinya juga nyaman,dekat jalan besar,pusat perbelanjaan juga.kalau mau cari apa2 gampang.deket stasiun juga,bisa diakses pake alat transportasi yg merakyat tuh.soal mahasiswi yg perrmakan,rambut kriting bisa jadi lurus karna rebonding,ga cuma di Ui kok.coba tengok ke sekolah-sekolah SMP.banyak siswi2 SMP yg mulai mermak dirinya.mungkin UGM begitu juga.soal permak engga merata di semua lokasi dan semua umur.mahasiswi UI banyak yg sederhana kok mas.mahasiswa/i UI ga pernah rapi.kuliah pakaian seenak mereka sendiri.mungkin hal seperti itu tergantung peraturan dari fakultas masing2.saya yakin mahasiswa/i UGM juga seperti itu.coba anda tengok mahasiswa/i rumpun kesehatan,contohnya kedokteran,bagaimana cara berpakaian mereka.kemeja,no jeans,sepatu tertutup.tergantung masing2 fakultas,di fakultas saya juga ada peraturan tata cara berpakaian no jeans,no kaos,no sandal.bahkan untuk cat rambut dan cat kuku juga ada peraturannya lho mas.keloyalan mahasiswa soal perusahaan tempat bekerja dan gaji,mungkin karna mereka juga sangat kritis.semua itu juga perlu adanya penilaian apa yg kita lakukan dan apa yg kita dapat apa sudah sebanding?anda sendiri juga pasti sekritis itu kan.ga mau kalau anda sudah bekerja keras namun gaji yg anda dapat tidak sebanding.kemudian ketika ada perusahaan yg menawarkan gaji sebanding dengan pekerjaan anda,bagaimana?UI sombong dengan brand “We Are The Yellow Jackets”.sebenarnya brand itu seperti identitas institusi tersebut,bukan ajang sombong ko mas.mungkin UI brandnya seperti itu dengan semua yg serba kuning.lain lagi memang kalau dibandingkann dengan UGM atau universitas lain.pasti punya brand masing2 yg mencerminkan identitas mereka.adanya bis kuning dan sepeda kuning sebenarnya juga membantu mahasiswa dan masyarakat sekitar karena dapat digunakan secara gratis.lebih menghemat pengeluaran uang untuk transportasi kan.seperti bis kuning juga tidak hanya digunakan untuk mahasiswa/dosen saja.masyarakat juga bisa menggunakannya secara gratis.untuk sumbangan sumbangan,memang UI tidak bekerja sama dengan PT ciggaretes mas.kenapa?anda juga pasti tahu sendiri mas.UI itu salah satu universitas yg tidak mendukung rokok.Ui juga tidak menyombongkan perpustakaan yg katanya terbesar se Asia Tenggara.adanya perpustakaan pusat di UI pasti bertujuan untuk manfaat yg besar.contohnya buku dan jurnal di perpus tsb tidak hanya dimanfaatkan warga kampus saja lho,namun juga orang luar.banyak ko orang luar seperti mahasiswa universitas lain yg datang ke perpus UI untuk meminjam buku atau jurnal untuk mengerjakan tugas mereka.bermanfaat kan?soal sopan santun dan moral,sepertinya anda salah besar mas.sejak awal saat ospek pun mahasiswanya sudah diajari untuk menanamkan sopan santun dan moral,tidak hanya ke kaka tingkat tapi juga ke teman seangkatan.yg saya tau juga lo-gue itu dipakai sesama teman seangkatan.kalo ke kakak tingkat masih pake aku-kakak kok.ke dosen juga pake saya-ibu/bapak walaupun di beberapa fakultas memang dosen-dosen meminta mahasiswanya untuk memanggil mbak/mas.sekiranya segitu yg sepertinya perlu orang tahu tentang UI,jadi tidak hanya sisi negatif saja yg mereka dapatkan.Ui juga banyak sisi positif kok mas.terimakasih….

    1. Terimakasih atas masukannya aprilliapuspitasari, maksud dari tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan mana yg bagus atau jelak. cuma sekedar share. Komentar sepanjang itu kayaknya bisa buat postingan blog deh. Coba bikin blog yang isinya seperti itu, untuk lebih menyempurnakan. Terimakasih.

  20. Komparasi ini memang subjektif, ga bisa digeneralisir mana yang lebih murah, lebih bagus, lebih sopan, lebih loyal, dan dll. Saya merasakan kehidupan di kedua kampus tersebut dan sama aja, ada positif dan negatif.. Ga ada yang lebih murah. Contoh, di UI dapat scholarship gratis, di UGM ga dapat πŸ™ kok jadil lebih mahal di UGM ya. Di UI masih banyak diminiati pelajar ibukota, di UGM yang dari Jakarta ga sebanyak UI, ya memang lebih sering liat yang ‘santun’ di UGM daripada di UI. Ya semuanya tergantung subjektivitas masing-masing, dan maaf, ga setuju kalau di generalisir =D. Keep posting bro

  21. ente jangan cetek gitu pikirannya. ente ada masalah pribadi sama kuliah di UI? karena ente tidak menunjukkan sisi positif UI ane jelaskan ke ente!
    UI memiliki fasilitas terbaik dibandingkan kampus lain di Indo. Bus AC tiap 10 menit, Sepeda untuk transport antar kampus, Perpustakaan yang megah, BOP aka SPP yg bisa tembus 100rb per semester, Organisasi yang banyak dan kuat sangat membentuk softskill ane. Hal yang paling ane rindukan dari kuliah disini adalah kenyamanan dan ketenangan dalam berfikir dan kuliah, Fakultas yang terintegrasi satu sama lain (ga terpisahkan sama jalan penuh asap dan suara berisik kendaraan) membuat ane mudah untuk menggali ilmu di fakultas lain, ente di kampus-kampus lain kalau mau belajar psikologi, mesti ngelewatin jalan berisik penuh polusi kan, lame. kampus itu memang seharusnya di bangun di tempat yang tenang jauh dari hiruk pikuk suara dan asap kendaraan.
    BR/// diakbar

  22. Sangat subjektif, gak seimbang informasinya. Ati-ati bang bawa almamater, cukup sensitif. Kecuali Anda udah pernah kuliah di keduanya, masih mending lah kasih opini pribadi. Lha ini gimana?! Kalau mau meningkatkan pengunjung cari cara yang kreatif ya lain kali, bukan kayak gini. OK? πŸ™‚

  23. Hahaha, santai Bang Haha. Ini justru tulisan yang kreatif. Baca lagi postingan ini baik-baik. Perhatikan mulai dari judul, gaya bahasa, dan makna implisit.
    Dari komentar-komentar di atas bisa terlihat kok mana anak UI dan mana anak-anak UI πŸ™‚

  24. memang subjektif,tapi menurut saya cara pandang anda tentang 2 universitas tersebut ga sama rata.berat sebelah ke UGM.kalo ngebahas kekurangan kelebihan,saya tidak menemukan kelebihan UI dan tidak menemukan kekurangan UGM.komentar saya juga cuma share mas,gausah jadi ga respek gitu.soal ngeblog,takut kalo isi postingan2 saya justru berdampak buruk dan mengundang banyak kontroversi.

  25. …saya lebih suka komen ya terakhir…mau anak UI atau UGM dengan segala fasilitas kelebihan dan kekurangan yang terpenting adalah menjadi manusia yang punya MORAL /ATTITUDE yang baik dan tidak KORUP yang dapat merugikan orang lain….mungkin itulah nanti orang akan bisa menilai…..

  26. Ga banyak komentar lah,soal’a yg lain tergantung pribadi masing2 aka oknum.
    Biaya: Sama2 standar kaya’a,tergantung usaha aja,toh setiap Universitas kan punya kebijakan masing2.kecuali biaya hidup,ane sih milih Jogja πŸ™‚
    Loyalitas: Halah klo soal duit sih siapa jg ga tergiur,mngkin ada alaasan mreka loyal,mau cari pengalaman dulu,stlh itu,standar lah.
    mau nambahin nih dr segi refreshing,Jogja ttp #1.klo mau liburan enak tempatnya tersedia.
    Coba di depok/jakarta,masa iye weekend ke moll mulu. πŸ˜€
    Btw ITB donk bro,biar lebih bersaing apalagi klo ada adik2 yg mau milih Univ,bisa persiapan dulu. πŸ™‚

  27. Kalau almamater terus yang dibawa, tenggelam aja sama almamater. Dasar orang Indonesia, primordialisme nya keras sekali. Lagipula memang tidak valid, kalau valid tampilkan sumber ataupun data tiap poin nya. Kalau asal bicara, kayaknya anda calon wakil rakyat deh.

  28. Mas… tulisan anda cukup bagus…, positif thinking nya dari saya, anda mau berbagi berdasarkan pengalaman kuliah dari kuliah di keduanya. Cuma mau saran jangan terlalu mengandalkan almamater, iya sih almamater penting untuk koneksi, tapi jadilah diri sendiri yang mempunyai kualitas dan bermanfaat bagi lingkungan. Dengan begitu orang akan mengenal sebagai seseorang bukan karna alumni UGM, ITB, dan UI. Oh ya… jangan lupa sifat humanisme kepada orang jangan sampai tinggal, hal ini yang sering membawa kita ke posisi strategis.
    Prinsip hidup untuk sukses dan survive:
    1. Kesabaran
    2. Kerja Keras
    3. Relasi
    4. Kesempatan
    Jika udah punya ke 4 poin tersebut, maka KEPASTIAN HIDUP yang didapat. Terima kasih telah memberikan ruang untuk berbagi.
    Salam
    Mahasiswa S2 Geografi Minat Geografi Fisik Program Pascasarjana UGM

  29. Semua tegantung orang nya mau kuliah dimana, yang jadi pertanyaan.. layak tidak seorang mahsiwa berkuliah dikampus yg ia tuju, kelayakan disini dalam artian akademik. Saya jauh dari Riau, pekanbaru, kalo dilihat dari kualitas keduanya, PTN ini masuk TOP 10 Favorit varsity indonesia. tp saya gak tertarik keduanya karena memang kurang ngena aja, gak dipungkiri bagus kok, tapi kembali lagi ke pribadi masing2. karena menyandang suatu almamater itu gak semudah kita masuk atau pindah sekolah tingkat lanjut, butuh rasa cinta almamater yang besar dan tiap mahasiswa yg didalamnya pasti memiliki rasa it. jadi ya gak usah mempermasalahkan apa2 lah, kalo penulis nya share, ya it point of view nya dia dan kita yg comment gak usah sampe emosi gimana gitu. rata-rata kan yg comment mahasiswa semua, dan bisa dibilang juga dari kedua PTN tersebut, tapi kok kita gak mencerminkan kualitas kita sbg slaah satunya sih? patut dipertanyakan :).
    Sala Pandji Diponegoro,Semarang :).

  30. Revisi :
    Semua tegantung orang nya mau kuliah dimana, yang jadi pertanyaan.. layak tidak seorang mahsiwa berkuliah dikampus yg ia tuju, kelayakan disini dalam artian akademik. Saya jauh dari Riau, pekanbaru, kalo dilihat dari kualitas keduanya, PTN ini masuk TOP 10 Favorit varsity indonesia. tp saya gak tertarik keduanya karena memang kurang ngena aja, gak dipungkiri bagus kok, tapi kembali lagi ke pribadi masing2. karena menyandang suatu almamater itu gak semudah kita masuk atau pindah sekolah tingkat lanjut, butuh rasa cinta almamater yang besar dan tiap mahasiswa yg didalamnya pasti memiliki rasa it. jadi ya gak usah mempermasalahkan apa2 lah, kalo penulis nya share, ya it point of view nya dia dan kita yg comment gak usah sampe emosi gimana gitu. rata-rata kan yg comment mahasiswa semua, dan bisa dibilang juga dari kedua PTN tersebut, tapi kok kita gak mencerminkan kualitas kita sbg slaah satunya sih? patut dipertanyakan πŸ™‚ .
    Salam Pandji Diponegoro,Semarang πŸ™‚ .

      1. oh ya, sekolah saya belakang anda SMAN8 Pekanbaru, Jalan Patimura masuk Abdul Muis πŸ™‚ Salam kenal juga.

  31. Semua tergantung pilihan hati ya mas..dan tergantung rezeki..
    masalah karakteristik mahasiswa juga kembali pada pribadi setiap mahasiswa,,mau rapih mau berantakan,,ga di depok sana ga di depok sini juga sama ajah..apapun itu ada baiknya kita menghormati dan mencintai almamater kita tanpa membanding-bandingkan mana yang unggul mana yang lebih buruk..let’s just enjoy our study..

  32. 2 tahun lagi kuliah, tadinya ragu milih UI apa UGM, pas liat ini makin bingung:|
    Dilihat dr faktor pergaulan dan lingkungan enak UGM, tapi fasilitas kuliah llengkap UI. Saran dong? Soalnya faktor lingkungan dan fasilitas sama-sama penting buat kedepannya

  33. saya tidak menganggap serius tulisan ini, sangat subjektit. tdk usah dianggap serius, palagi dijadiin referensi mentah2 utk mutusin mau kuliah di UGM atau di UI. Dulu wktu sblm mutusin mau kuliah di UGM dan teman saya minat kuliah di UI, kita beruda parno duluan krn referensi aneh2 dari brbrp orang tentang kedua kampus itu, tapi setelah kami masing2 merasakan sendiri kuliah di kedua kampus itu, kita bener2 have fun dan enjoy bgt, jadi kembali lagi ke orangnya masing2. Nyantaii aja..kalo sekedar bacaan ringan, ya bolehlah, kreatip deh tulisannya πŸ™‚

  34. Saya total 10 tahun kul di UI ( D3 FIB, S1 Adm Negara FISIP dan S1 Manajemen FE) dan sekarang jadi staf di FEUI jurusan akuntansi. Sekarang punya dua anak. Anak pertama cowok, saya proyeksikan ke ITB. Anak ke dua cewek, saya proyeksikan ke UGM. Bosen UI melulu, wisuda di balairung lagi.. balairung lagi.. nggak surprised. Pengen ngerasain foto-foto di Sabuga dan Graha Sabha Pramana. O ya tambahan: istri saya juga dari UI, Fisika…

  35. wah bro tau darimana kampus UI ga terbuka buat umum? belom masuk ya pasti..
    coba tanya warga sekitar depok deh UI itu terbuka buat umum apa gak hehe ..
    kalo soal sombong apa gak, gw yakin kok tiap kampus ada orang sombong dan hedonnya tp gak semua kan..

  36. Memang masalah bagus tidaknya itu tiap orang beda2. Betul kata yg diatas. Jadikan aja bacaan ringan untuk nambah pengetahuan dari pengalaman orang. Ambil sisi itunya aja…
    Soalnya saya jg pernah bingung antara teksip UI dgn teksip UGM. Akhirnya, Alhamdulillah, di terima jg di UGM.
    Info tambahan :
    1. Masalah biaya kuliah di PTN sekarang tu pakai UKT (uang kuliah tunggal). Jadi biaya kuliah itu dijadiin satu dan dibayar per semester. Penentuan UKT nya berdasarkan penghasilan ortu kotor kalo di UGM. Kalo yg sukses daftar BidikMisi bahkan gratis (meskipun ada jg yg dapat sejuta/semester)
    Selengkapnya di sini http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/sites/default/files/Lampiran_Permen_UKT.pdf

  37. Selamat “mas”, dengan post ini, anda dengan ironis justru sukses memberi kesan bahwa anak UGM lebih “superior”, lebih “benar” dan … suka menggeneralisir.
    1. Kuliah di UI lebih mahal daripada di UGM? Belum pernah mendengar istilah BOP Berkeadilan ya “mas”? Di UI biaya kuliah DISESUAIKAN dengan kemampuan finansial mahasiswa/orangtuanya, bahkan paling rendah hanya Rp 100 rb! Teman saya anak tukang penjual krupuk bisa kuliah di UI tuh? THINK AGAIN
    2. Kalau yang ini memang benar. Tetapi itu memang standarnya begitu, bukan salah UI dong? Catatan: Biaya uang kuliah tidak ada hubungan dengan lokasinya, karena hal itu sepenuhnya merupakan kebijakan universitas
    3. “Lo gue” bukan bahasa yang sesuai EYD? Memangnya menurut anda kata “panjenengan” itu ada di KBBI? Tidak memanggil senior dengan “kak” BUKAN berarti tidak sopan (semua maba pasti memanggil senior dengan “kak”, BTW). Itu artinya mereka sudah saling kenal dan dekat sehingga tidak memandang lagi adanya senioritas atau tetek bengek semacam itu.
    4. Ralat, masyarakat umum BISA masuk ke UI dengan mudah. Karena itu tidak heran apabila di sore hari banyak boypung (koboy kampung) berkeliaran di kampus UI menggeber motornya yang berisik
    5. Sangat subjektif. Jakarta (dan sekitarnya) dan Jogja adalah 2 kota yang sangat berbeda, dan tidak ada yang secara gamblang lebih superior. Memangnya anda kira di Jogja tidak ada geng motor? Kalau saya diharuskan memilih ingin hidup (dengan standar yang sama) di Jakarta atau di Jogja, saya pilih Jakarta
    6. Ini menurut saya lucu & absurd. Jadi secara tersirat anda ingin menyampaikan bahwa (“mayoritas”) mahasiswi Jakarta melakukan operasi plastik? Lalu mahasiswa UI tidak “ayu” dan mahasiswa UGM tidak “cakep”? Saya sampai malas meyanggah ini
    7. Memang harus diakui pakaian orang metropolitan lebih stylish dan wanitanya lebih seronok
    Tetapi paragraf ini:
    “Mahasiswa/i UI lebih bebas dalam berpakaian ke kampus, boleh pake kaos oblong, sendal jepit ke toilet, rambut gondrong, atau gak mandi pagi.
    Kalau mahasiswa/i UGM lebih sopan (karena peraturan), ke kampus wajib pake kemeja rapi, sepatu (no sandals), rambut rapi dan wangi. Meskipun di beberapa fakultas ada yang bebas juga.”
    Sangat amat generalisasi. Bravo!
    8. No comment. Saya bukan orang HRD. Apakah anda orang HRD?
    9. Memangnya salah memamerkan “brand” almamater? Justru universitas yang tidak punya ciri khas menandakan bahwa almamaternya miskin kreativitas. Maaf jika menggeneralisir, seperti anda
    10. Wakakaka. Wakakaka. Wakakaka
    11. Kalau saya lebih memilih kuliah di MIT atau Harvard sekalian
    12. UGM dan Jogja (mungkin saya salah) juga terkenal dengan budaya “alon-alon asal kelakon”. Kenapa anda tidak memasukkan poin ini dalam pandangan anda?
    Maaf jika komentar saya menyinggung siapapun. Cuma menyampaikan uneg-uneg di era kebebasan informasi ini. Merdeka!

    1. Terimakasih Bukan Anak UI. Saya tau Anda pasti anak UI sehingga mati-matian membela kampusnya. Hehe. Tapi saya terima, ini era kebebasan berpendapat. Saya tidak mengagungkan atau menjelekkan kampus. Cuma sekedar Kebebasan berpendapat. Oke…

  38. Sebagai orang umum(non UGN-non UI) saya aneh dengan tulisan anda. Katanya sudah survey 7th lebih?tetapi tulisan anda saya lihat darr kacamata jurnalis lebih men-superiorkan UGM ya? kebetulan kakak teman saya kuliah di UGM, sy orang semarang, jadi saya sedikit banyak tahu ttg UGM. UGm lebih murah dr UI?lebih murah biaya hidup memang iya, tp lebih murah biaya kuliah TIDAK. saya tahu betul biaya kuliah di UGM dan UI, dan UI satu2nya universitas dgn biaya pendidikan paling murah di banding PTN top laiannya dengan fasilitas buat mahasiswa yg sangat mumpuni(termasuk dgn adanya bis kuning dan sepeda). nah bandingkan dgn UGM, mereka memberi apa untuk mahasiswanya yang sudah membayar mahal?lucu sekali tulisan anda, katanya survey sudah 7th lebih tetapi datanya tidak faktual. dan lagi UI sangat sangat terbuka buat umum. Setiap sabtu-minggu warga sekitaran UI(dpk-jkt) selalu melakukan olahraga pagi semacam jogging dan sepedahan. apakah kurang terbuka?hehe lucu. Soal pakaian, anda belum pernah lihat pakaian mahasiswi UGM sekarang2 ini?wah ngelebihin orang jkt mas. Oya, bukankah UGM di nobatkan sebagai kota pelajar dengan tingkat asusila tertinggi di Indonesia?search aja penelitian2nya di google. Matursuwun semoga lebih bisa objective dalam memberi pendapat :))

  39. sptx artikel ini cuma bacaan buat hahahihi, ga usah terlalu serius lah nanggepin nya.. πŸ˜€ peace ^_^

    1. Tapi takutnya ntar orang2 salah persepsi tentang UI. Saya kebetulan orang Sumut. Banyak orang di sekitar saya takut memilih UI lebih kepada alasan biaya hidup dan biaya kuliah. Padahal sebenarnya saya bisa makan 3 kali sehari dengan biaya 500rb di UI. Saya bisa kuliah gratis di UI. Teman saya hanya bayar 500rb doang utk kuliahnya. Di UI banyak artis2. Hihi … Di UI juga multikultural kok bahkan banyak bule dan orang Koreanya. Hihi … Senang bisa berada di UI.

  40. Ahahaha, artikel guyon ditanggepinnya serius bangett..
    Bravo kak “Bukan Anak UI” dan Om Ling,, semoga gak cepet stress, anda tuh terlalu reaktif dan berlebihan ^^ *no-offense

  41. Mas Afret di profilnya katanya lulusan Teknik Sipil UI Ekstensi 2009. Kok gelarnya ST, mm, phd ya? Maksudnya Magister Manajemen? Doctor of Philosophy? Nulis gelar aja masih salah? Harusnya kan S.T., M.M., Ph.D. Pantes aja tulisannya hanya beropini ria tanpa dibuktikan dengan angka dan sumber yang resmi.

  42. Yaiyalah lebih ngedepanin ugm soalnyaaa yg nulis aja alumni ugm, kalo situ ga masuk ugm mungkin akan berpendapat ui itu kampus ter ter deh menurut orang orang, tapi yaa compare 2 kampus boleh tapi seharusnya tidak memihak salah satunya

  43. ralat (saya mencoba objektif)
    – pertama wakil presden kita dari UGM bukan UI, tapi harus diakui semenjak terpilih jadi presiden orang ini malah gak pernah nongol
    – trus di ugm juga ada sepeda kali bro sekarang mah, situ angkatan berapa?
    – Trus bahasa “gue-loe” itu kayaknya bahasa daerah deh, yaitu betawi, sama kaya “abdi jeung manueh” bahasa daerah jawa barat (sunda) ataupun bahasa2 lainnya, bukan soal EYD EYD an mas, bagus dong kalo anak muda jaman sekarang masih pada bisa bahasa daerah?
    – satu lagi soal perpustakaan terbesar se asia tenggara? gak pernah baca berita apa? pembangunannya sarat korup???, tapi di UGM juga ada pembanguna RS. Akademik yang katanya juga sarat korup dalam proses pembangunannya, ya susahlah kalo ngomongin Indonesia
    – trus soal fisik dan dandanan mahasiswi, ya itu sih gak bisa digeneralisir, tiap orang dandannya pasti beda2, logikanya anak UGM juga banyak yg asalnya dari Jakarta jadi ya ada aja yg idungnya di operasi, alis di sulam, rambut di cat dll,
    begitupun di UI pasti yang dandannya biasa2 aja juga ada lah bro
    kalo menurut gue sih lebih ke anak2 Soshum (di Univ manapun) yang gayanay udah kayak fashion show, sedangkan eksak gak gitu2 banget (diluar kedokteran gigi dan umum), tap tetep ada pengecualian kok
    – soal “kutu loncat” pas kerja juga gak bisa disamaratakan, balik lagi ke pribadinyaq masing2
    – tapi gue bangga lah sama konsep KKNnya UGM yang membangun Indonesia dari derah2 terpencil di Indonesia
    – FYI aja ya menurut gue isu di Jogja itu hidup mahasiswanya ‘bebas’ mungkin bener, tapi SETAHU GUE (sekali lagi SETAHU GUE) yg kelakuan bejat bukan mahasiswa/i dari UGM bro, FYI aja ya buat yang gak tau di Jogja itu ada banyak banget Universitas, makannya juga disebut kota pelajar di Kab. Sleman nya aja ada ratusan Univ, tapi ya emang yang terkenal itu apa lagi kalo bukan UGM, padahal yg bejat bukan anak UGM
    yang penting kedua lulusannya bisa memberikan sumbangsih nyata ajalah buat Negara ini

  44. ya harus diakui lah sebejat2 nya anak daerah masih lebih bejat anak ibukota pastinya, yang bikin jogja dikenal kayak gitu juga ya karena kelakuan anak ibukota yg kuliah dan ngekost disana

  45. FYI : UGM juga punya kampus di Jakarta (tapi hanya untuk hukum dan ekonomi kalo gak salah)
    trus ya di UGM juga da fasilitas sepeda, fitness centre (meskipun gak lengkap), Yoga, Aerobik, Body Language, klinik kesehatan, seminar yang semuanya itu gratisss
    ugm juga punya villa sendiri didearah yang dingin, punya hutan yang luas banget di daerah gunung kidul namyanya wanagama, punya, punya meseum goespasial di deket pantai parangtritis, dan meseum2 lainnya dll
    ya semua komentar dan tulisan2 diatas kayaknya gak melalui hasil observasi yang mendalam/valid dan cenderung bersifat subjektif, jadi buat yg baca biasa aja kali gak usah ditanggepin serius banget, gak usah pake otot apalagi emosi, ts nya juga gak jelasss

    1. Ngritik orang subjektif, tapi di atas ngeplot anak dari ibukota di UGM bejat-bejat. Lah gimana dong hahaha.

  46. Yah memang menurut webometriks UGM bagus, tapi yang jelas. Univ manapun jika kita memang tujuannya buat belajar bukan memandang fasilitas sama aja boong πŸ™‚ Semua Univ punya keunggulannya masing” lho πŸ™‚ Salam saya dari IPB hihi, visit juga http://www.ipb.ac.id

  47. Tiba-tiba gue nemu postingan ini. Opini yang cukup menarik dan berani, meskipun sebenarnya sangat subjektif. Komen-komennya pun lucu, ada yang emosi, ada yang pro, dan ada juga yang kontra. Gue lulusan UGM beberapa bulan yang lalu haha seru aja baca postingan ini..
    1. Kalau dari segi biaya, gue rasa relatif ya. Dari segi uang pangkal sama aja lah sama UI. SPP selama gue di UGM 540.000 persemester, dengan BOP maksimal perSKS 60.000-75.000. Kalau lo masuk lewat jalur PBUTM, lo ga akan ditarik biaya. Setara sama program biaya kuliah yang bisa menyesuaikan penghasilan ortu yang ada di UI.
    2. Biaya hidup tergantung sama masing-masing individu. Karena di sekitaran UGM banyak pendatang dari luar kota, sekarang mulai dari kos2an sampe harga makanan terus naik. jangan salah, selama 4 tahun gue kuliah harga nasi gudeg favorit di deket kampus dari 10rb naik terus sampai terakhir ini 18rb. Sekali makan minum puas dan sehat di Jogja 10ribuan sih. Gue yakin di sekitaran UI juga ga jauh beda kok. Tergantung jg kalo orangnya boros mau di jogja mau di depok ya boros aja.
    3. Senioritas di UGM, terutama fakultas gue yang isinya mayoritas cowok, bisa dibilang fine-fine ajalah. Bukan yang gila hormat dan sungkan antara senior-junior. Pas baru masuk sampai ospek, bisa jadi. Justru ospek bikin mereka ngerangkul banget, di tempat gue jg udah lumrah kok junior manggil nama biasa ke seniornya. Intinya saling menghargai aja lah mau senior atau junior.
    4. Iya! Gue sering ke UI. Dan gue suka banget sama lingkungan dalam kampusnya yang sangat friendly untuk pejalan kaki. Di UGM sendiri karena sebagian lahannya diberikan UGM untuk jalan bagi umum (karena sejarahnya lahan untuk UGM adalah hibah dari sri sultan), jadi beberapa fakultas terputus oleh jalan-jalan raya.
    5. Gue asal Jakarta. Dan gue setuju banget kalo Jogja kondusif banget buat jadi tempat belajar dan hidup. Awalnya gue underestimate, tapi akhirnya kota ini bener2 bs bikin jatuh cinta bgt. Hidup di Jogja serba mudah, karena apapun mudah dijangkau hahaha. Di Jogja lo bisa bermodalkan 7.000 untuk wifian di cafe yang kece banget. Atau ngeprint A3 di printshop dengan harga 1500.
    6 dan 7. Ini super subjektif banget kayaknya hehe. Menurut gue cewek cantik stylish ada di mana-mana kok, dan ga akan pernah bisa diplotkan. Ga berarti yang di UGM lugu-lugu semua, dan ga berarti yang di UI itu hedon-hedon. Semua tergantung pada individu masing-masing.
    Gue kuliah di teknik, dan jurusan gue membebaskan soal dresscode, malah aneh aja kalo kuliah pake kemeja rapi di tempat gue. So, kayaknya tergantung kebijakan jurusan masing2 juga.
    8. Loyalty? Kayaknya depends ya. Tergantung individu. Terlepas dari statistik survey HR kalau memang ada hehe.
    9. Yap! Branding UI jauh banget dibanding UGM. Kalo ui dengan yellow jacketnya, gue bahkan ga ngerti sama warna jas almamater ugm haha. Ijo karung goni kalau kita nyebutnya. Agak ga seru aja kl dijadiin stiker haha.
    10. Ini ni comment banget hahaha lagi lagi tergantung individunya. Universitas itu alat pencetak aja, kualitas produk tergantung dari lo masing2 πŸ™‚

  48. nobel nobel aya-aya wae bikin postingan gini, lo kuliah di UI 2 tahun, kuliah di UGM 3 tahun ya?
    bedakan Jakarta sebagai Ibukota dengan Jogja
    yah walaupun depok itu sebenrnya lebih ke jawa barat sih tp masih satelit kota jakarta
    beda antara Jabodetabek dengan Jogja adalah pada penyebaran sub urban yang mempengaruhi gaya hidup dan life style
    termasuk informasi dll
    termasuk mahasiswa nya antara di jogja dan jakarta memang akan berbeda semua point-point tersebut memang benar adanya
    tapi tidak melupakan fungsi dari GDP kota kota tersebut depok dan jogja
    pendapatan Jawa barat sebagai propinsi lebih besar di bandingkan jogja, dan anggaran APBD nya pun lebih besar sehingga menimbulkan banyak investasi di depok
    yang membuat perubahan karakter dan life style
    jadi kalo ente bependapat seperti point point di atas hanya pendapat pribadi bukan dari analisis lingkungan dan budaya
    lebih objektif dan lebih bijak bel ya klo berpendapat sehingga postingan ente bisa lebih dewasa
    salam
    – mantan alumni ekstensi UI bareng ente jg –

  49. nice artikel nih, saya anak UI anyway hehe.
    Kalo menurut saya semua yang ditulis ada benarnya. Kalo di UI anak-anaknya lebih santai dan fleksibel. Kalo UGM lebih lugu dan sopan.
    Tapi satu yang salah nih, kalo dilihat dari program reguler nya, UI biaya kuliahnya lebih murah dari UGM loh. Temen saya di UGM kena 14.7 juta per semester padahal dia kurang mampu dan ketika dia minta keringanan dipersulit sama pihak univ-nya. Kalo di UI, temen saya yang kaya raya aja minta keringanan (BOP namanya) dan dia hanya kena 5jt per semester. Di UI , program regulernya maksimum kena 7.5jt kalo di rumpun saintek dan kesehatan. Kalo soshum maksimal 5jt. Dan kalo minta keringanan gampang banget.
    Itu saja koreksi dari saya.

  50. Lulusan ekstensi wajar. Otak bego. Bikin artikel sok lucu. Sehebat hebatnya dosen UI ngajar, tapi kalo mgajar ke ekstensi ya ga guna, kuliah cuman buat cari gelar. Makanya lulusan bego, kayak anda lah.
    Gw anak UI, reguler, yg gw liat anak anak ekstensi atau paralel tu sampah. Bego, gw heran kenapa UI ada program kayak gini, emg bener rektorat UI doyan duit, tapi program ekstensi dan paralel ini menjatuhkan kualitas UI.
    Gw sedih sih, org org bego kayak lo sok jual diri dengan bilang lulusan UI, padahal cuman ekstensi!
    Intinya, lo bego. Ga cocok lo buat ceritain UI, kuliah cuman di ekstensi. Snmptn ga lulus ya? UGM pun cuman d3 yg mana itu seleksi privat dr ugm, bukan nasional seperti s1 UGM.
    Bacot doang lo anjing.
    Senang gw bisa marahin org bego, apalagi yg bacot sampah kayak lo.
    Ih… Gw jadi jijik ngebayangin lo pernah kuliah di UI, pengen muntah.

    1. RT talita!
      sumpah gue juga setuju bgt ama lo!
      karena pemerintah mengharuskan setiap PTN untuk menyelenggarakan biaya pendidikan semurah mungkin bagi mahasiswanya, makanya PTN2 termasuk UI membuka program ekstensi dan paralel guna mencari dana untuk mensubsidi mahasiswa reguler (yg masuk UI lewat jalur negara).
      tapi ya, di UGM itu gampang bgt kok masuknya.
      walaupu akhir2 ini soal UM UGM susah bgt, asalkan lo punya orangtua yg duitnya banyak bgt, lo bisa masuk UGM lewat jalur kemitraan ataupun mandiri (yg sebenarnya lebih banyak lewat jalur belakang biar lebih gampang masuk UGM).
      lagipula di UI kan ada BOPB jadi mahasiswa UI dari golongan ekonomi apapun masih bisa membiayai kuliahnya.
      di UGM juga bukannya pergaulan bebasnya udah parah bgt ya?
      padahal (katanya) jogja kota pelajar dan masih menganut nilai-nilai tradisi keraton, kok pergaulannya sama aja kaya jakarta haha?
      mas afret kayanya dendam nih sama UI gara2 pas kuliah di UI ternyata susah bgt masuk, belajar, dan lulusnya daripada UGM.
      makanya mas afret sangat “MENDEWAKAN” UGM yg GAMPANG BGT NYOGOKNYA dengan membuat generalisasi fakta2 sesat soal UI dan UGM.
      semoga lulus jadi MM dan PhD ya mas, ingat kita sekolah tinggi2 buat mencari ilmu, bukan untuk mengejar gelar, mencari sensasi, dan memicu kontroversi ya!

      1. Tuan Robot. Alhamdulillah saya masuk UGM sebagai mahasiswa undangan. Dan masuk UI dengan tes normal. Gak ada istilah suap menyuap dalam kamus saya. Karena jujur adalah prinsip saya. (maaf tidak ada maksud apa-apa, hanya meluruskan).

      2. waduh gampang banget nyogoknya dari mana nih kabarnya? bisa dibuktikan gak ya? hehe, dari tadi ketawa-ketawa aja liat komenan kaya gini. ada juga bukti pergaulan bebas di UGM yang katanya udah parah BANGET? universitas di jogja ga cuma ugm kak, banyak univ swasta di sini, yang pergaulan bebas itu taunya dari ugm dari mana? kan ga bisa dibuktikan secara jelas πŸ™‚ saya punya temen di UI dan mereka biasa-biasa juga kok pergaulannya. memang ada beberapa poin dari penulis yang berat sebelah tapi ya ga segitunya lah nyampe memfitnah almamater lain lah. btw ukt di ugm juga pake subsidi silang kok, jadi ukt yang mahal menyubsidi ukt yang lebih murah. lalu saya rasa semua jalur masuk ugm transparan jadi ga ada yang sogok-menyogok deh πŸ™‚ komen anda membuktikan kapasitas anda sebagai mahasiswa kak, jangan mempermalukan almamater anda, sekian πŸ™‚

      3. Reza Fatah Nugraha, Cerdas. Komentar yang sangat dewasa. Pilihan kata-kata yang berpendidikan. Tidak seperti yang di atas. hehehe. Kualitas kata-kata mencerminkan pendidikan orangnya.

    2. Oh iya talita, Apakah UI bisa melebihi prestasi UGM di tingkat Nasional maupun Internasional? Mana kampus yg pakai nama indonesia tapi mahasiswanya terbelakang dalam hal prestasi.. Apakah mahasiswa kayak elu elu ini cuman bisa membangakan jaket kuningnya, nongkrong pakai jaket almamater, belanja pakai almamater , serba kuning lah… Padahal lu aja di sana cuman jadi mahasiswa ingusan.. hahahaha, DASAR ANAK MUKA KUNING LU !!!!!

    3. Woi Tali Kolor, lo kalo kasih comment yg bener. Gua lulus STAN lanjut di Eksten UI. Lo kuliah di mana Tai Ta ? Umur Eksten UI udah lbh dari 50 tahun . Goblok lo, asal ngomong aja bacot lo. Lo bukan Anak Kuliah ya Bangsat. Lulusan Eksten bisa lanjut ke S2 di mana aja. Jangan cuman sirik aja lo ANJING. Yg anak PMDK juga ada yg terusin di Eksten. Buka otak lo jangan cuman sirik aja. Dasar Busuk lo BINATANG.

    4. Gue heran, lo ngejelekin almamater lo sendiri. Gk habis pikir gue. Heh kakak gue paralel tp nyatanya ip dia tinggi dibandingin yg snm. Gue ikut paralel dan yg diambil sewaktu sma 40% rank teratas 1 sekolah. Dan yg snm ada rank bwh gue yg ktrma. Jadi snm sama paralel sama aja. Malah yg miris itu elo! Kasian UI pnya mahasiswi yg parah dan gak ada sopan”nya, mulut kaya kebun binatang aja. Tentang subsidi, lo tahu mahasiswa di indo brpa? Gk hanya di ui oy! Di papua jg ada. Kalo gk ada subsidi silang (yg mampu/paralel byr lbh mahal dr pd snm) gitu trus pemerintah yg hrs byr smua? Kesehatan, keamanan, pertahanan mau di anggarin pakek apa? Bukannya rektor yg maunya duit, tp itu buat membantu yg miskin + fasilitas bwt mahasiswa/i. Pakek otak kalo mau ngatain orang lain, jangan pakek emosi.

  51. Talita dan robot justru makin ngebuktiin kalo anak UI itu kurang sopan.
    Talita: “Intinya, lo bego.”
    wuiiih, bahkan orang secerdas albert einstein, sehebat habibie, saya yakin ga bakal bikin judgment kaya gini. komennya talita kelas rendah banget. katanya anak UI. :p
    robot: “makanya mas afret sangat β€œMENDEWAKAN” UGM yg GAMPANG BGT NYOGOKNYA dengan membuat generalisasi fakta2 sesat soal UI dan UGM.”
    gampang banget nyogoknya? laaah, ini mah asumsi super sok tau. setau saya, yang GAMPANG BGT disogok itu polisi lalu lintas. hahaha. fakta2 sesat? lah ini kan opininya mas afret, fakta sesat dari mana? ga bisa bedain opini sama fakta, bot? ini juga komen kelas rendahan. pret.
    tapi herannya, kak robot langsung melanjutkan dengan ini: “semoga lulus jadi MM dan PhD ya mas, ingat kita sekolah tinggi2 buat mencari ilmu, bukan untuk mengejar gelar, mencari sensasi, dan memicu kontroversi ya!”
    asik bener dah, tau kalo sekolah buat mencari ilmu, bukan untuk mengejar gelar. tapi sah2 aja gitu mencari ilmu sambil tuduh sana tuduh sini? hahaha. memicu kontroversi? justru komen kak robot ini yang memicu kontroversi. kontradiktif deh kak robot ini. saya yakin robot belum pernah main ke UGM. :p
    tapi kita semua harus memahami kalo orang kaya talita dan robot ini cuma sekelumit butiran debu di antara kumpulan otak2 bijaksana mahasiswa UI.. jadi dimaafin aja deh talita dan robot ini. hehehe
    asiknya, afret tetep stay cool nanggepin komen2 yang begini. sakses fret!

    1. shrj komentarnya ngena banget.
      saya gak mau debat dengan komentar-komentar miring seperti mereka, cuma menghabiskan energi. Masih banyak hal lain yang bermanfaat untuk dilakukan.
      Sukses juga buat Anda shrj.

  52. lucu baca kolom komentarnya ketimbang kontennya, walaupun itu dari sudut pandang yang punya blog sih, yaa kalau dilihat kondisi UGM saat ini mungkin 11-12 lah, nggak 11-14 lagi sama UI.
    rapopo ojo dipikir serius bro, ndak edan malah mumet.

  53. intinya tulisannya terlalu subjektif, yang komen juga nanggepinnya ada yang sekedar bwt lucu-lucuan, ada yang serius,
    akhirnya terjadi kontroversi deh bagusan ui apa ugm
    menurut saya sih kedua universitas tsb bagus2x, kok sama kampus2x negeri indonesia malah pada adu argumentasi gak penting, mending sama2x berkarya bersama untuk indonesia lebih baik, gak penting mau menteri dari ui kek, wapresnya dari ugm kek, mau presidennya dari mana pun, tujuan harus membuat negeri ini jadi lebih baik

  54. setuju dengan komen shrj, tulisan ini opini, tapi ya kalo opini dipikir dulu lah, etis gak kalo di omongin di dunia maya kayak gini, dipikir dulu dampaknya, saya sih nganggep tulisan kayak gini cuma hiburan sama lucu-lucuan belaka, tapi yakin anak2x ui sama ugm yang lain nganggep ini cuma bwt seru2x an aja?, tuh efeknya liat dikomen2x di atas, adu komentar untuk isi trit yg gak penting kayak gini,
    bwt TS nya kalo bwt trit yo dipikir dulu, opini sama kebebasan berpedapat boleh, tapi dilihat juga efek dari tulisan yang anda buat, selamat anda telah membuat “anak” ugm dan ui brantem untuk masalah2x gak penting yang anda tulis (dilihat dari komen-komen nya),
    FYI-ulisan blog ini udh mulai rame lho,
    saya percaya anak2x ui dan ugm dewasa menganggapi tulisan gak penting kayak gini
    trus kesimpulannya mas penulis buat trit kayak gni apa?
    bukan anak ui dan ugm, tapi hormat sama anak ui dan ugm yang telah berkontribusi banyak untuk negeri ini

  55. Koq gak ada yang mbahas STAN yak??
    Padahal temen sekelas saya satu ketrima di kedokteran UGM dan satunya keterima di Kedokteran UI…
    Dan lebih memilih DIPLOMA TIGA STAN…

  56. Kocak nih TS nya, ” Kalo melihat di RANGKING ASIA tahun 2011, memang UI berada jauh sedikit di atas UGM. Tapi itu penilaian berdasarkan apa? Terlebih lagi, jaman sekarang survey-survey atau polling tak bisa dipercaya (bisa dibeli). Terserah Anda mau percaya atau tidak, kalo saya memilih untuk melakukan survey sendiri saja, lebih independent (tidak ada kepentingan) dan akurat, setidaknya menurut saya.”
    “Jadi saya melakukan survey ini sudah 6 tahun (hampir 7 bahkan), gimana gak akurat. Dan saya mensurvey dari berbagai sisi untuk perbandingan, diantaranya:”
    Anda menyebutkan bahwa rangking Universitas ASIA tahun 2011 didapat poling dan survei yg tidak jelas, trus bukankah survey anda sendiri trhdap UI maupun UGM bisa disebut “tidak jelas” ? Anda diatas tidak ingin membanding2kan universitas, tapi nyatanya tidak. Di dalam artikel ini anda malah membandingkan beberapa sisi dari UI dan UGM, darimana anda bisa bilang bahwa survey yang anda lakukan akurat ? Itukan hanya pendapat subjektif anda saja.
    Jadi sebaiknya sebelum anda ingin memberikan suatu fakta terhadap suatu universitas anda harus dapat menjelaskan hal tersebut dari sumber yang jelas dan bisa dipercaya.
    Jangan dari survey pengalaman anda sendiri.
    Subjektif itu mah namanya.
    Belajar lagi yah mas ahli SIPIL.
    “Afret Nobel, ST
    Entrepreneur & Engineer | Alumni Diploma Sipil UGM 2009 | Alumni Ekstensi Teknik Sipil UI 2012 | Founder Nobel Consultant | Desain Rumah, Ruko, Analisis Struktur Bangunan, Gambar DED dan IMB – 085729023535 ”
    Belajar lagi soal yang namanya Subjektivitas.
    Jangan bisa nya bangun gedung ama jembatan aja.
    Wakakaka kocak emang nih TS.
    LOL

    1. Ini memang survey subjektif kok, trus saya musti gimana? Memang kalau kita punya pendapat itu tak bisa bikin semua orang senang. Ada yg suka ada yg tidak. Ya saya tetap terima. Mungkin ada yg bisa bikin lebih baik dari saya? atau Anda Pak Gunawan? Silakan!

  57. Hem paling aneh no 3, 5, 6, 7, 9
    3. Gue elu bahasa gaul ? itukan bahasa daerah betawi, berarti gua bisa asumsi gini dong “panjenengan” “beta” “abdi” bahasa gaul ?
    Lagian gak ada hubungan nya “gue elu” jadi lebih kasar dan panjenengan lebih sopan. Gua sebagai mahasiswa merantau dari Sumatra yang lagi kuliah PTS di Jakarta ngerasa biasa2 aja tuh. Mungkin situ aja kali ga terbiasa ama lingkungan di UI yang notabene nya lingkungan anak-anak Jakarta
    5. “Jogja kota yang nyaman enak, bla bla” Subjektif lagi disini, lo menggeneralisasi pendapat beberapa orang yang bilang jogja itu enak, gua sebagai orang Sumatra ngerasa lebih enak di depok daripada di Jogja tuh, Nah berarti kan ada orang yang berlawanan ama pendapat elu kan ??
    6. Soal cantik mah relatif, haduuu gimana sih emas ini. Ente disini kayak seolah2 menyudutkan bahwa mahasiswi UI daripada UGM.
    7. Ini lagi soal fashion. Kocaknya lagi situ bilang anak UI tuh boleh gondrong pake sendal jepit, sedangkan di UGM rapih sopan, sumbernya dari manaaa?? dari pengalaman enteee??
    Ente pengalamannya cuma ngeliat di lingkungan jurusan sipil doang kali, lagian udah kuliah mah bebas bro lo mau gondrong mau apa kek yang penting selama kelakuan ama nilai lo bener mah gamasalah.
    Ente kayaknya orang yang terlalu “Harus Rapih dan Sopan ya?”
    Jadinya begitu ngeliat anak UI yang gondrong ente langsung ilfil dan menggeneralisasi kayak gitu..
    9. Yah kampus rakyat dan embel2 nya bukannya “branding” dari UGM sendiri, kenapa situ harus terlihat iri dan benci dengan anak UI yang punya jaket kuningnya?
    Toh anda sebenarnya udah jadi almet FT UI kan??
    Kayaknya gegara kebanyakan bikin struktur bangunan, ente jadi punya kebiasaan menggeneralisasi nih.
    Artikel Anda disini udah masuk ke bagian SESAT PIKIR,
    Oh maaf, Anda sudah belajar MPKT bukan ?
    Lain kali kalo bikin artikel cantumin sumber yang jelas !
    Salam peace love and gaul \m/

  58. Saya alumni stan dan EKSTENSI UI, punya banyak teman yg menuntut ilmu di UGM… Semuanya ada plus minusnya… Pendapat yang berbeda itu biasa… ga ada yang sempurna kok…
    Menurut saya, yang paling penting adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas individu kita, UI dan UGM sama2 bagus kok… πŸ™‚

  59. Hehe… hampir 2 tahun yang lalu tulisan ini di posting ya, lucu juga.
    Sy nemuin blog anda saat iseng cari logo ITB untuk model jacket, dan setelahnya ingin buka logo UGM. Kemudian nemu double face logo (UGM-UI). Yg menurut sy, such an openmind idea. Tentang logo ya, bukan tulisan.
    Hampir 10 th yg lalu sy lulus dari mechanical eng. UGM. Muter-muter smp tahun 2009, sy bertemu dgn ibunya anak-anak, istri. Kebetulan istri dari UI. Dari awal kami bareng, banyak kami temui diskusi yg sy anggap bisa melucukan suasana, seperti yg teman-teman tulis di komen atas. Sy tentunya membawa UGM dan istri membawa UI. Such a fun daily, isn’t it πŸ™‚
    Anda lulus UGM tahun 2009, UI tahun 2012. Lumayan bagus ulasan perspektif anda. Insyaallah semakin banyak yg ditemui, akan lebih mengolah berbagai persepsi atas tulisan.
    + paradoks anda, mending kuliah di ITB… Kebetulan sy lanjut di civil eng. ITB. Lanjutlah kemari untuk S2 anda. Berbagai SNI, standard perhitungan ttng jalan dan bangunan di create disini. Tp kalau anda mau beralih ke mechanical, misal mau mendalami termodinamika untuk ruangan, ITS juga bagus, apalagi ttng kapal, brandnya ITS πŸ™‚
    Soal ilmu, kedepan, seiring perjalanan kita, wilayah/lokasi gak jadi soal. Yg penting secara keilmuan, anda secara personal dapat menggali bidang anda, mengembangkan untuk kemudian menerapkan dan menjadi bermanfaat…
    Salam dari UGM, ITB dan UI πŸ™‚

  60. kalo tulisan anda saya koreksi. Sebagai paragraph argumentatif, teks anda masuk dalam kategori slipery slop dan careless logic. Tanya kenapa? over generalisasi. Bisa ditemukan dengan mengevaluasi argumen anda. Personal opinions are not bad. All writers have biases. What is important is that writer not let bias interfere with their ability to be logical and fair.

  61. ugm ataupun ui. pasti ada kelebihan dan kekurangan masing2. ini kan juga cuma opini orang. dibalas dengan opini juga gpp. asalkan saling menghargai pendapat. saya masuk ugm di tahun 2014 ini

  62. inti dari semua ini lebih ke menghargai pendapat satu sama lain, klo ada hal hal yang tidak sesuai fakta, berusaha dibenarkan, manusia tak luput dari kesalahan. sebaiknya saling mengingatkan dan melengkapi. supaya kita semua memiliki pemerataan wawasan pengetahuan. kampus UI dan UGM adalah sama sama kampus harapan bangsa. so, kenapa mesti dibanding bandingkan.? πŸ™‚ salam kenal. saya Mr. A. mahasiswa UI 2014

  63. Lucu juga baca komenan nya dari atas ampe habis,,
    πŸ™‚
    maaf ya mba sama mas2 sekalian,,
    apalagi mba talita,
    ini post an kan pendapat nya mas Afret, jadi sah2 aja donk,,
    kalo memang tidak sesuai dengan pendapatnya mba kan gk perlu saling menghina,,
    indonesia kan negara bebas berpendapat,,
    kasian mas afret nya jadi terpojok gitu
    πŸ˜€

  64. gila awet banget komengnya ada terus,,,
    haha artikelnya emang Subjektif sih… tp sebagai Mahasiswa ane dikasih tau yang namanya blog emang dari dulu begini…
    iya gan harusnya ente lebih mengenal lagi dah antara UI dan UGM Upss..
    di UI emang ane akuin mahal untuk biaya, tp di UI nyari keringanan sama beasiswa kayaknya jauh lebih gampang ( FAKTOR SAINGANNYA DIKIT, PADA TAJIR2 GILAAA) ane mahasiswa kampung reguler gan

  65. Alhamdulillah ………… Gw tembus Akuntansi, UI. Gw angkatan 2014/2015.
    Sebodo amat org nulis apa. Pokoknya Jaket Kuning. Semoga hidup gw sukses ke depannya.
    Aamiin

  66. Baik ui atau ugm merupakan perguruan tinggi yg memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka baiknya kita sbg mahasiswa dimanapun kita menimba ilmu, mengambil apa yg menjadi hal baik dan membuang segala kekurangan. Niscaya banyak hal baik pula yg kita dpt aplikasikan, mas afret artikel yg menarik jd menambah wawasan akan ptn2 di indonesia. Sukses terus mas

  67. Haloo, saya anak ugm loh. Maaf nih tp yg jadi presiden alumni ugm. Hehee
    Weits, satu lagi. Ugm sudah meresmikan perpus barunya yang katanya terbesar se asia tenggara πŸ™‚

    1. Haloo saya anak fe ui
      Selamat ya untuk perpus barunya
      -dari kampus yang sedang membangun sport club

  68. yang tentang sepeda kampus..
    skarng speda kampusnya dah Buanyyaakk.. .dan bukan hnya di area rektorat.. kemana2 aja (dilingkungan kampus) boleh kok..antar fakultas..
    stasiunnya sepdanya banyak πŸ˜€

  69. karena gue orang asli klaten yg notabene deket ma jogja n walopun skrg gue tinggal dijakarta n walopun lagi gue bukan salah satu dari mahasiswa ui or ugm,gue tetep prefer ugm

  70. Hai saya anak UGM, cuma mau ralat aja kl sepeda di UGM sekarang gk hanya di rektorat aja, udh banyak stasiunnya yang udh kesebar di seluruh UGM πŸ™‚

  71. Saya salah satu mahasiswa teknik di UI. Saya ingin memberi tanggapan untuk masalah fashion di lingkungan UI
    Saya sudah melihat mahasiswa2 UI SETIAP HARI, rata2 mereka memakai kemeja dan jarang sekali ditemukan memakai sendal jepit ke kampus. Jika ingin observasi, tolong diperhatikan lebih baik lagi dan jangan berpatokan pada satu fakultas saja
    Terima kasih πŸ™‚

    1. Tergantung dimana sih
      Masalah kerapian, gw biasa pake kaos oblong. Tapi disini gak boleh sendal juga -_-

  72. gue anak ui, yg insyaAllah taun depan di ugm, aamiin πŸ™‚ hahahaha lucu menghibur postingannya yaa walaupun terlalu subjektif tp tanggepin dgn bijak aja udeh hidup almamater masing masing! :)))
    btw gue penasaran kenapa saran nya itb?

  73. saya mahasiswa S-1 UGM, ya ada beberapa benernya juga sih poin-poin di atas tapi banyak yang kurang sesuai juga dan terlalu digeneralisasi. ya namanya pendapat orang buat seru-seruan aja deh, toh sama-sama kampus tonggak peradaban bangsa. sama-sama top 3 bersama ITB juga. jujur kadang iri sih sama brandnya UI dan perpusnya yang terbesar di ASEAN (bravo!) tapi ya masing-masing univ punya kelebihan dan kekurangannya. UI bagus di fasilitasnya yang super ‘wah’, sementara UGM bagus di program pembangunan masyarakatnya ataupun risetnya. ga usah lah saling adu pendapat unggul-enggaknya antara UI dan UGM, toh kita sama-sama bawa Indonesia. harus sama-sama menyaingi NUS, NTU dan Chulalongkorn. kalo perlu ya Harvard/MIT sekalian wkwk.

  74. Kocak jg
    Gw alumni ugm (angkatan 07), bnr ugm fasilitas msh kurang,,gedung belanda (mipa)
    Tp yg gw liat,,sebagian besar mhs’y pinter2 n berprestasi d SMA msg2
    Lulusan’y rata2 krja d tmpat yg bgs2
    Alhamdulillah
    Sepeda?
    Selama kul jln kaki mulu
    Murah?
    Ugm mah murahan
    Per semester spp 500rb
    Hehe
    Jgja?
    Daerah blimbingsari n sendowo,,tiap pagi ada nasi sayur pakai ayam cm goceng
    Tp cm 1 jm udh habis
    Kosan?
    1,5jt setahun
    Inti’y ugm murahan tp isi’y jenius2

  75. “Tp yg gw liat,,sebagian besar mhs’y pinter2 n berprestasi d SMA msg2
    Lulusan’y rata2 krja d tmpat yg bgs2
    Alhamdulillah”
    Alhamdulillah salah satu lulusan yang pintar dan berprestasi itu kini jadi Presiden Republik Indonesia :))

  76. Sudahlah kasian authornya. Semua universitas itu sama aja, baik negeri atau swasta, baik ui atau ugm. Yg membedakan itu otak mahasiswanya bukan fasilitasnya. UI dan UGM sama” bagus, sama” berkualitas mahasiswanya, banyak pelajar yg bercita” ke dua kampus tersebut lo. Kakak saya yg di UI gk pernah bicara lo gue dan dia sangat sopan, selalu membantu ortu (tergantung individu). Gak hanya kakak saya, kakak kls saya orang miskin juga dpt masuk ui dengan beasiswa, malah dia berpendapat UI kampus yg murah dibanding UGM, tp UGM tetep murah kok, hanya saja sksnya (orang berpikiran itu yg bikin UGM terlihat mahal, padahal secara keseluruhan gk juga, jika orang tersebut memang berkualitas untuk masuk UGM). Jika dilihat fasilitasnya, UGM sudah ada peningkatan yg bgs. Jangan salahkan authornya, mungkin dia surveinya 3 th atau 7 th yg lalu, yg mungkin saat UGM masih minim sepeda. Lagian sekarang mahasiswa bnyk yg pakek motor, jd jgn terlalu diambil hati.

  77. Hallo kakak kakak, aku orang jakarta asli 16tahun di jakarta. Bosen banget. Aku pengen banget kuliah di UGM karna itu di Jogja. Awalnya minder karna nilaiku pas2an tapi karna liat riset2nya jadi pengeb ke jogja karna lingkungannya. oain ya kak semoga dapet snmptn undangan UGM. Walaupun 90 kakak kelasku diterimanya di UI, hampir semua tmnku juga maunya ui jarang bgt yg UGM 1,2 org doang. Dan yang bikin minder guruku bilang “ugm susah undangannya karna alumni sini yang kesana terakhir tahun 2012” huu makin ngedown. Katanya yg diutamain yg org jogjanya dulu:( ga sabar kuliahh semoga seduai sama yang ada dibayanganku. Semoga seruu ngekos sendiri kerja sambil kuliah semoga bisa sukses kaya pak Jokowi aamiin

    1. Mungkin lebih benar kalau jalur undangan bakal nge-blacklist sekolah yang siswanya telah diterima tetapi mengundurkan diri.

  78. Kak Afret alumni diploma teknik sipil ugm angkatan 2005? Saya sekarang kuliah di diploma teknik sipil ugm angkatan 2013. Postingan kakak mengenai modul praktikum sangat membantu, banyak digunakan teman-teman untuk referensi laporan praktikum terlepas dari modul praktikum yang diberikan dosen. Salam kenal kak Afret. Silahkan bergabung dalam ikatan alumni.

  79. Gua mahasiswi UI 2015. Seharusnya nih org2 kayak si penulis ini gak buat artikel beginian. cuman gua ngerasa,seharusnya kita tuh UI,UGM,ITB lbh sadar akan kerjasama sehingga bisa membawa nama Indonesia di kancah internasional.Yha lucu aja sih liat yg begini,mungkin maksudnya cuman buat seru2an aja tp pikir deh kan kita gak tau ada yg gak suka apa gak sama postingan ini. Knp gua bilang gitu? Dr bbrp poin yg di paparkan di atas mostly semuanya hampir UGM ya. Yha wkwkwk lucu sih,gak objektif bgt terlalu mihak ke 1 hal. Mending bikin artikel yg bisa menyatukan semua universitas di indonesia bukan buat yg kayak begini,kalau ada yg tersinggung salah satu pihak kamu kena dosa juga loh hihihi

    1. Tunggu aja di gembor2in “selamat datang di universitas terbaik satu-satunya yang memegang gelar “indonesia”

  80. Penilaiannya sangat subyektif sekali, saya ngakak bacanya
    kalo biaya hidup mah tergantung GAYA HIDUP masing2 individu mas. Tergantung mas/mbak pinter-pinter ngatur uangnya.

  81. aku sih lebih ke UI soalnya keren gitu sih … kalau masalah jarang mandi mah tergantung orangnya dia jorok atau engga .wkwkwk ,paling yang gak mandi lagi banyak tugas/dia maba,soalnya pernah baca artikel anak maba itb jarang mandi gara2 tugas tumpuk.

  82. Nice posting anw,
    Saya belum selama mas Afret mengalami di lokasi yang berbeda. Saya hanya 3 tahun di UI, 1 tahun di UGM, dan 3 tahun di ITB. Kebetulan saya mahasiswa Teknik Sipil. Jadi mungkin perbandingan saya akan cenderung mempertimbangkan kehidupan mahasiswa di Teknik Sipil saja.
    #1 Biaya Kuliah
    Menurut saya ini akan berbeda dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005, biaya per semester seluruh mahasiswa di UI (normal rate) Rp 1.500.000,- dimana kampus lain masih menggunakan sistem pembayaran spp (kalau tidak saya salah ingat 450k ditambah 100k per sks) atau paket semester sebesar 4jt per semester. Kebijakan sekarang di UI adalah 8,5jt per semester dengan uang pangkal 25 jt. di ITB 10jt per semester dengan uang pangkal entah berapa, tetangga kosan saya membayar 40jt). Untuk UGM saya tidak memiliki informasi.
    #2 Biaya Hidup dan Biaya Gaya Hidup
    Well, biaya hidup baik di Depok, Bandung, ataupun Jogja sama. Silahkan cek harga sembako. Tapi Biaya gaya hidup berbeda. Misal: biaya transportasi. Di depok, biaya transportasi paling tinggi di antara kota Bandung dan Jogja. Apakah ada di kota lain yang mahasiswanya melakukan perjalanan dari provinsi yang berbeda? Misalnya Bekasi Timur ke Depok? di Bandung, setahu saya paling jauh berasal dari Cimahi. Sedangkan di Jogja, karena saya hanya 1 tahun. Saya tidak memiliki informasi apapun untuk dibandingkan pada tahun yang hampir sama. Yang perlu temen2 tahu, harga print ebook di Depok jauh lebih murah daripada di Bandung dan Jogja. It’s based on my experiences.
    #3 Pergaulan
    hmm…ini terlalu subyektif. Sepertinya temen2 di Depok, di Bandung, dan di Jogja memiliki interpretasi sendiri kaitannya dengan kesopansantunan dan ketatakramaan. Di Depok, memanggil nama memiliki arti kedekatan, sedangkan di Jogja, memanggil “mas/mbak” memiliki arti penghormatan kepada orang lain dimana kita tahu bahwa tradisi jogja memang mengenal ‘kasta’.
    #4 dan #5 Lingkungan dan Lokasi Kampus
    untuk nomer ini, saya sungguh mengidolakan Bandung karena suhu di bandung jauh lebih sejuk dibandingkan di Depok ataupun di Jogja. Well. di UI memiliki area terbatas dengan fasilitas angkutan internal kampus yang mengakibatkan para anak kos jarang ke kampus naik sepeda motor, berbeda dengan UGM yang tidak memiliki area terbatas dan memiliki fasilitas angkutan umum terbatas sehingga para anak kos dominan mengendarai motor ke kampus. Akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa kenyamanan antara UI dan UGM lebih nyaman UI karena aksesibilitas mahasiswa (bahkan yang tidak memiliki kendaraan pribadi) dapat terfasilitasi dengan baik bahkan hingga pukul 21:00. Selain itu, dekatnya kampus dengan pusat perbelanjaan, pusat hiburan, terminal/stasiun memberikan kesan nyaman untuk berkuliah di Depok.
    #6 dan #7 Ladies dan Style and Fashion
    saya nggak tertarik untuk membahasnya πŸ˜€
    #8 Kesetiaan
    Saya sayang setuju. Banyak alumni UI akan pindah dengan tawaran yang lebih OK dibandingkan dengan pekerjaan yang saat ini.
    #9 Branding
    Saat saya berada dalam pertemuan antara UI, ITB, dan UGM. Masing2 perwakilan diberikan kesempatan untuk presentasi dan pada akhirnya, ketua panitia (berasal dari LPPM UGM pada waktu itu Prof Danang Parikesit) menyatakan bahwa teman2 UI sangat peduli dengan branding sehingga pekerjaan yang dilakukan di meja dapat dipublikasikan secara menarik. Sedangkan teman2 ITB sangat peduli dengan konsep yang sangat mendalam sehingga hal-hal yang dipresentasikan menjadi menarik hanya untuk sebagian orang. Sedangkan teman2 UGM merupakan mahasiswa yang bekerja sesuai dengan apa yang dibutuhkan tanpa perlu orang lain tau konsep atau branding dari pekerjaannya. Mungkin kalau bahasa pak Jokowi, kerja kerja kerja. πŸ˜€
    #10 Pekerjaan
    no comment
    Well,
    ini semua pendapat saya berasal dari apa yang saya rasakan berkuliah di ketiga tempat tersebut.

    1. nohan : koment ini jauh lebih baik. bukan berdasarkan kata orang. tapi lebih ke observatif secara real ke lapangan. memahami dengan kepala sendiri dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. menurut saya, comment nohan lebih baik dibandingkan dengan isi blog ini sendiri. bagus mba nohan…
      afret nobel : Anda terlalu subjektif.

  83. Saya mahasiswa UI , dan saya rasa semua yang mas Afret Nobel nyatakan dalam postingan diatas itu BENAR. Soal UI kadang nggak sopan, mahasiswi, kurang rapi, dll. UI lebih terkesan kampus “Profesional-elit” sementara UGM masih “Merakyat” . Tapi ralat untuk biaya kuliah mas, sekarang di UI sistemnya menggunakan BOP – Berkeadilan, bayar semampu orangtua, murahnya nggak ketulungan mas..hehe
    yang saya kurang suka dari UI itu ya kurang sopannya itu,, sampai saya sempat berpikir “kayak gini bisa masuk UI???”
    hehe

  84. sarannya itu loh, yang di bahas apa, yang disaranin apa–
    tapi ITB, UGM, UI bagus-bagus semua lah yang jelas. sesama waw/? kan? :v
    tapi ttep, UGM itu kampus tujuan saya :’D

  85. hidup mahasiswa! yeah. karena gak selamanya biaya kuliah itu mahal. kenapa ane bilang gitu? karena ada beasiswa. sorry kalau oot :v. salam anak teknik bro

  86. menurut saya postingannya belum bisa dibilang survey.. katanya ‘generalisasi’, tetapi menurut saya terlalu memihak. Anda jatuhnya memberikan cap bahwa UI hanya menang brand (yang pada akhirnya disangkal juga dengan membela UGM). Seharusnya UI dan UGM tidak perlu dibandingkan begini loh. Yang ada malah mahasiswanya bisa musuhan.
    Mau kritik juga di poin biaya kuliah..
    UI sekarang pakai BOP mas, untuk Soshum 0-5000.000, saintek 0-7500000 (sekalipun KEDOKTERAN)
    Untuk pergaulan kami juga dibiasakan pakai “kak” kok ke senior, cuma beberapa ada yang gamau dipanggil kak.

      1. Mas sebelum menulis, mending belajar sitasi dulu deh atau belajar cara mengkutip sumber. Udah membaca sejauh mana sih tentang UI? Saya sebelum daftar universitas saya cari semua info yang ada, dan memang pada akhirnya semua fakta terkuak. Anda terlalu menyudutkan satu sisi. Kalau boleh saran nih, semua pakai fakta ya. Emang masnya juga dah merasakan kuliah di UI dan UGM? Kalau sudah terbuka kepalsuan artikelnya tinggal bilang (gak usah di ambil hati)

  87. Wkwkk, salah satu cara pihak ugm mau menjelekkan ui biar peminat ugm bertambah yaa? Kasian siihh soalnya dari yg gua tau, peminat ugm jauh dibawah peminat ui, sumber dari jumlah pendaftaran sbmptn, snmptn, dan un masing2 univ yaa cari sendiri boleh deh. Dan yang katanya mahasiwanya berprestasi, sayang kalo prestasinya cuma di sma nya masing2 tp prestasi di ugmnya di kancah internasionalnya cuma dikit bgt, cuma bisa di lokal doang sih semua univ jg bisa. Surveynya the best! (Palsunya)

  88. Sabar ya ka Afret Nobel terhadap komentar negatif, saya tahu kakak hanya berniat mengambarkannya secara umum, memang masih banyak yang tidak sesuai antara yang kakak post disini dengan realita yang ada , tapi saya tahu kakak tidak pernah berniat menjelekkan salah satu antara keduanya, hanya saja orang tertentu berpikiran tidak demikian. Ugm dan Ui sama2 baik 😊

  89. Kuliah di ISI aja bro, Institut Seni Indonesia Surakarta.
    Kenapa??
    1. Kita bisa menempa hobi kita kebanyakan (banyak tuh anak-anak sekarang yg hobi berkesenian seperti main musik, menggambar, fotografi) jadi kenapa nggak dikembangkan di bangku perkuliahan??
    2. Kita bisa menjaga & mengenalkan tradisi kebudayaan Indonesia ke seluruh masyarakat baik domestik maupun mancanegara
    3. Orang seni kebanyakan lebih arif dan bijaksana dalam mengahdapi suatu permasalahan sosial (walaupun terkadang sifat egoisme seorang seniman muncul)
    4. Banyak yg belum tau tentang seni, sehingga untuk prospek kerja ke depan sangat bagus. Tidak banyak persaingan, apalagi bila kita membuka usaha/sanggar mandiri.
    5. UNIK
    Kok malah promosi yaa??? maaf sekedar mendinginkan suasana aja bro, hehehe..
    kampus bawah cuma bisa menyimak aja hehe.

  90. Gw anak fisip ui… keren bro postingannya, anak ui bener tuh kadang sering pke kaos oblong, celana robek2, rambut gondrong dll. Tapi kayaknya masih pke sepatu deh hehe. Kalo menurut gw sih ui lebih unggul karena letaknya di ibu kota. Masalah sdm gw yakin sama aja, sama2 pinter. Terus masalah fasilitas, jelas aja ui lebih maju, gimana enggak maju, orang di topang 2 provinsi yaitu jabar dan dki, jadi anggaran buat ui dobel. Sekedar fakta, UI letaknya ada di depok tapi sebagian masuk lenteng agung jaksel. Kayaknya ini strategi supaya anggarannya ganda deh hehe.

  91. SALAM FTUI 2012 ! sebenernya udah liat post ini sejak 2014 , sukses loh mas artikelnya banyak yang jejak ,
    FYI ya bang kalau gondrong si di FT dah banyak banget gondrong hal lumrah kok πŸ™‚
    kalau baju oblong rambut sepuan merah hijau jinga biasanya anak FIB FISIP kalau anak FT ya kebanyakan pakai kemeja ada si yang gaya rock n roll ya namanya juga FT ya bang πŸ˜€
    tapi benci banget kalau liat anak FIB rambut warna unggu sama ijo haha kaya kemoceng haha..
    bukan maksud negative comment yak haha
    anak FIB FISIP FE peace just fun πŸ˜€ LOL

      1. Asslamu’alaikum warrah.atulloh.. hehe maaf kalau yang koment di atas ini sudah kuliah, kalu saya malah baru mau masuk sma hehehe tapi saya ingin cari informasi lebih banyak tentang universitas2 di indonesia, saya suka keduanya tapi kalau dari tempat saya tinggal lebih dekat ke UGM, jadi keinginan saya itu kuliah di kampus bagus, murah, banyak beasiswa,dll. Benar saya setuju dengan komentar mas/mbak yang tadi di atas kalau tidak salah universitas apapun juga yang penting kan otak mahasiswa/inya. Apalah arti universitas favorit tanpa ada mahasiswa/i yang cerdas juga. (Maaf mungkin bahasa saya nggak jelas) kita kuliah dimana saja yang penting itu niatnya, niat lillahita’ala mencari ilmu, juga misi kita (sebagai generasi penerus bangsa) yaitu untuk mencerdaskan bangsa indonesia, juga memajukannya. Maaf mungkin saya kurang sopan, doakan saya kakak semua. Mudah2n saya bisa kuliah seperti kakak2 terbaik ini. Jangan enggan tuk berbagi ilmu dengan saya karena saya ingin belajar menjadi penulis walau belum bisa, tp jg ingin jadi dokter spesialis juga.. huhh curhat sekalian ya kak.. hehe mudah2n di tahun 2019/2020 nanti universitas di indonesia semakin maju juga semakin membantu bagi siswi seperti saya yang ekonomi orang tua dikelas menengah kebawah.. amiinn.. doakan saya kakak2.. bismillah.. Allohu Akbar!

          1. Terimakasih kak.. amiinn, hehe mungkin fikiran saya muluk2 baru sja daftar SMA lgsung bingung mau bagaimana, kak salam kenal ajari saya ngeblog dong kak.. saya belum bisa, huhuhu

          2. Roihatuljanah, artinya itu bagus. Kamu berwawasan ke masa depan. Sudah melihat jauh ke depan. Saya bukan blogger, bisanya cuma nulis2 aja.

  92. Terima kasih artikelnya. Jadi teringat Sendowo, Blimbingsari, Masjid Mardiyah, Bunderan, Gelanggang, Lembah, nonton wayang semalam suntuk di Balairung UGM, bersepeda pagi di Graha sabha pramana, dll…. masih buanyak….. Alumni UGM, 1993-2000.

  93. Nah yang terakhir itu saya suka, mending kuliah ITB. Dari dulu pengen bgt nyambung S2 di ITB tapi duit dari mana bro ? Belum lagi harus ninggalin anak dan isteri Hehehe

  94. UI sedang unggul dari UGM versi webometric dan QS world. Dengan adanya Ui bisa jadi univeritas yang dapat teladani juga di inpirasikan bagi univeritas negeri atau universitas swasta di Indonesia. AAMIIN #Bersatu Almamaterku #We are yellow jacket.:)

  95. UI makin unggul dari UGM, buktinya UI satu2nya kampus Indonesia yg masuk peringkat THESS, juga peringkat bergengsi dunia QS, UI jauh unggul dari UGM, juga peringkat Webometrics yg tahun kemarin UGM unggul, kini UI yg nomer 1

  96. Gue anak psiko ui 2016
    Seneng banget bisa masuk “KAMPUS KUNING”….
    The most prestigious university in Indonesia…
    “we are the yellow jacket”

  97. Tapi menurut pengalaman gue soal “ramah” mahasiswanya jauh lebih UGM, gue punya temen UI soms2 amat, tergiur dengan kepopuler univ sama almamaternya.. soal biaya hidup ya UGM lah, daerah UI kosannya mahal2 beda sama di UGM

  98. hai kak saya udah kls 3 sma nh ,bentar lagi mau kuliah jga insyaalah pengen nya ke ui sh , doakan ya kak semoga masuk
    pengen bgt make si kuning hehee

  99. Kak … Serius deh .. Emang ui mahal ya ?? Kok aku baca artiker ukt termagal di ui buat jurusan kedokteran aja cuma 7,5 jt . Maaf aku orang semarang . Jd aku berpatokan sama ukt undip.
    Aku tau ugm itu paling bagus . Tp ntah kenapa pengen bgt aja masuk ui .
    Semahal apa sih kak ? Serius nih . Soalnya aku bilang sama orang tuaku kalo aku kuliah di luar kota aku bakal nanggung biaya hidupku sendiri . Kalo kuliahnya aja mahal kan aku keder bayarnya.
    Ohiya ukt termahal jurusan soshum aja yg aku baca cm 5jt

    1. Buat informasi yang pasti silahkan buka di penerimaan.ui.ac.id, biasanya dicantumkan sk rektor terbaru mengenai biaya akademik.
      Urusan biaya ini nggak tentu bisa jadi sekarang lebih murah bisa jadi lebih mahal. Seperti contoh di saat saya masuk di FT UI tahun 2005, biaya per semester saya 1,5jt (fixed) dimana saat itu kakak sepupu saya di FT UGM membayar 2,2jt per semester (flexible tergantung jumlah sks)

    2. Ukt ui itu mahal / ngga nya tergantung kamu mausk lewat jalur apa. Di ui ada 4 jalur : snm,sbm (biaya ukt nya murah 2,5 jt), untuk simak ui dan ppkb ui itu mahal (untuk ukt d3 nya 9jt dan s1 10 jt). Biaya hidup di depok masih blm terlalu mahal

  100. Kalau saya yang penting gelar yang diraih bisa bermanfaat, nggak harus UI atau UGM. Percuma kuliah di universitas bonafit jika tidak bisa menggunakan ilmunya dengan baik.

  101. Udh ITB in aja. Lingkungan dan suasana nyaman dan mendukung. Gk mahal hidup disana (Asalkan gk kebanyakan main). Beasiswa banyak (Karena banyak satu siswa bisa dpt lebih dari satu beasiswa). Ingat hidup cuma sekali. Kejar apa yang ingin dikejar.
    Tulisan diatas murni berdasarkan pengalaman.

  102. Alhamdulillah gue keterima UI Akuntansi (2017).
    Nyusul abang gue di Akuntansi UI (2014).
    Keterima juga di S1 Akuntansi UPN “Veteran” Jakarta, Akuntansi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Akuntansi Prasetya Mulya, Akuntansi Trisakti & Akuntansi Binus University .. tapi gue lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *