Naik gunung Pertama | Gunung Merbabu

Lupa tanggal berapa…
GUNUNG yang menjadi cikal bakal pendakian kami (Nobel, Hendri dan hardi). Aku (nobel) dan kedua temanku ini saat itu adalah mahasiswa Diploma Teknik Sipil UGM, Jogja. Dari Sekolah Dasar aku memang suka petualangan. Aku menjadi anggota aktif Pramuka sekolah pada waktu itu. Tetapi kegiatan organisasi Pramuka aku tinggalkan saat duduk di bangku esempe, karena di esempe ku kegiatan Pramukanya tidak terlalu aktif seperti di SD. Setelah lulus dari esempe, aku melanjutkan sekolah di sebuah sekolah kejuruan di Pekanbaru, Riau. Awal mula saat masa orientasi, kita disuruh memilih organisasi yang mau kita ikuti, kebetulan ada Organisasi Pramuka. Dari sini lah tumbuh jiwa cinta alam dan petualanganku.
Berawal dari iseng-iseng, dan mungkin juga ini panggilan jiwa petualang. Temanku, Hardi, mengajak aku dan Hendri naik gunung. Tapi saat itu aku masih agak sedikit ragu. Aku tanyain Hardi, dia bilang dia sudah pernah naik gunung sebelumnya. Sedangkan aku dan Hendri benar-benar sebagai pemula. Penjelasan yang Hardi berikan cukup meyakinkan. Sehingga kami memutuskan untuk ikut dengannya.
Sebagai pemula, para manusia yang terdahulu menyarankan untuk naik gunung Merbabu. Karena katanya, gunung Merbabu mempunyai jalur yang tidak terlalu terjal yang cocok untuk pemula.
Secara administratif, gunung Merbabu terletak di 3 Kabupaten yakni Kabupaten Magelang, Kabupaten Salatiga dan Kabupaten Boyolali. Gunung merbabu merupakan gunung api tua. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1968.
Ada 3 rute untuk dapat menuju puncak Merbabu. Jalur utara melaluai Tekelan, Salatiga; jalur barat melalui Wekas, Magelang; dan jalur selatan melalui Selo, Boyolali. Secara, karena kita berangkat dari Jogja, maka kita melalui jalur barat melalui Wekas, Magelang.
Waktu itu hari Jum’at. Jam 13.00 kami ber 3 naik bus jurusan Jogja-Magelang. Sampai di terminal Magelang, kami melanjutkan perjalanan ke Wekas dengan bus kecil. Sesampai di Wekas, udara dingin khas pegunungan sudah mulai terasa. Sekitar jam 15.30, sebelum melanjutkan perjalanan ke basecamp, kami sholat Ashar dulu di sebuah mesjid di tepi jalan. Dinginnya air pegunungan seakan menusuk ke dalam tulang.
Setelah sholat, kami melanjutkan perjalanan. Melalui jalan berbatu yang tersusun rapi dan di kelilingi pohon cemara menuju perkampungan penduduk. Waktu tempuh sekitar 2 jam. Maklum, pemula terlalu banyak istirahat.
Setibanya di basecamp (tempat awal pendakian, tempat mengurus administrasi, dll.) kami beristirahat sejenak melepas lelah. Sekitar jam 20.00 wib, setelah selesai sholat Maghrib dan Isya, dimulai dengan doa bersama, kami memulai petualangan.
Berbekal sebuah mainan kunci yang ada petanya dan sebuah kompas kecil amatiran. Di perjalanan melintasi perkebunan sayur penduduk, di perbatasan sebelum memasuki hutan, navigasi sudah mulai kacau. Kami menemui sebuah rumah yang kami anggap sebagai POS I, tetapi di dalam peta yang kami lihat, letak POS I masih sangat jauh. Suasana sunyi di rumah yang menjadi asumsi POS I tadi, membuat kami mengurungkan niat untuk beristirahat. Melanjutkan perjalanan, sampai di sebuah percabangan jalan. Ke kiri atau lurus?… setelah bermusyawah sebentar, kami memutuskan mengambil jalur lurus. Menyusuri hutan yang gelap melalui jalan tanah setapak yang cukup terjal. Karena merasa udah kelaparan, kami memutuskan untuk beristirahat sambil memasak mie instant untuk menambah tenaga.
Suasana saat istirahat, karena aktifitas yang tidak begitu rame, terasa sepi dan menyeramkan. Tiba-tiba terdengan suara aneh dari balik pepohonan. Crot crot, crot crot, seperti bunyi jejak kaki. Cukup membuat aku ketakutan, karena emang dasarnya penakut. Setelah di teliti, ternyata suara berasal dari saluran pipa air yang bocor. ini sebuah petunjuk. Secara, airnya berasal dari atas gunung, jadi kalau ingin sampai ke atas, kita harus mengikuti jalur pipa tersebut. Hukum alam.
Sebuah tebing setinggi 1,5 meter menghadang kami di perjalanan. Kami harus naik satu persatu tanpa carrier (tas punggung pendaki) karena sangat beresiko jika naik dengan beban di punggung, kalo meleset sedikit aja, jurang di sisi kirinya sudah siap menangkap. Hendri yang duluan naik, setelah dia di atas, satu persatu carrier kami oper, aku dan Hardi berhasl naik berkat teamwork yang bagus.
Setelah tebing curam itu, jalan semaki terjal, dengan sudut pendakian sekitar 60°. Sampai di punggung gunung itu, kami disuguhkan pemandangan indah, suasan kota Megelang saat malam dilihat dari ketinggian. Seperti bintang di bawah sana.
Kami tidak menemukan pendaki lainnya saat di perjalanan. Apa mungkin kami tersesat?… oh no…. kami harus yakin, I believe I can. Ada jalan setapak landai yang sudah tertutup oleh semak, kami menemukan tanda-tanda kehidupan di sana, sebuah lapangan luas yang disebut POS II. 6 orang pendaki dari Magelang sedang mendirikan tenda, sekitar jam 03.00 kami memutuskan untuk beristirahat di sana.
Dingin yang teramat dan capek yang tersangat membuat kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian, cukup sampai di sini. Karena kalo mau menuju puncak masih sekitar 3 jam lagi.
Setelah menginap sampai pagi, jam 07.00 kami beranjak pulang. Jalan yang kami tempuh saat pulang berbeda dengan jalan yang kami tempuh saat naik. Jalan yang ini begitu landai, tak ada sedikitpun yang terjal. Dengan sedikit istirahat, kami sampai di rumah kecil yang kami anggap POS I tadi, di sana ada seorang ibu penduduk desa sedang memanen kol di kebunnya. Setelah kami tanya, ternyata rumah kecil tadi adalah makam sesepuh desa dan disekitarnya semua adalah pekuburan umum penduduk desa. Untung baru tau sekarang. Ternyata malam tadi kami berjalan di sektar kuburan-kuburan.
Finally, kami sampai di Jogja lagi dengan selamat dan merasa puas meski puncak Merbabu tak tertaklukkan.

(Visited 3 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Naik gunung Pertama | Gunung Merbabu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *