Pasir Berbisik Gunung Sumbing

Pic. Dari kiri>> Iwan, Hardi, Nobel, Aan, Ilham
Tanggal 22 agustus 2008 nanti, sebelum memasuki bulan puasa, kami merencanakan mau mendaki Gunung Semeru di Malang, Jawa Timur. Setelah dipikir-pikir, tanya sana tanya sini, ternyata budget buat ke gunung Semeru tidak sedikit. Paling tidak kita punya uang minimal 500 rb. Sebagai seorang anak kuliah yang masih dibiayai oleh orang tua, rasanya gak mungkin menyisihkan dana segitu untuk kegiatan yang sama sekali gak diketahui oleh orang tua kami. Ntar malah bingung ngasi alasan uang segitu habis buat apa. Mau boong, gak berani, karena dari kecil aku memang diajarkan untuk selalu jujur…. Hehe
Mencari alternatif lain…
Selain gunung Semeru, gunung mana lagi yang belum pernah kita daki, yang pasti gunung yang kalo mau mendakinya, gak butuh banyak biaya, yang pasti yang deket-deket aja. Terpikirkanlah gunung Sumbing…. Secara gunung Sumbing terletak di Jawa Tengah, daerah Wonosobo yang secara materialistis* letaknya gak jauh dari Jogja tempat kami kuliah. Gunung Sumbing terletak bersebelahan dengan gunung Sindoro yang pernah kami daki dulu, hmmmmm…. Deal, gunung Sumbing.
Terlepas dari semua cerita mistis mengenai gunung Sumbing, tanpa sombong, kami beranikan diri untuk naik gunung tersebut. Jadwalnyapun di reschedulle, yang tadinya direncanakan tanggal 22 august dimajukan menjadi tanggal 16 august, sekalian memperingati hari kemerdekaan di puncak gunung. Yang tadinya mau menyambut bulan suci Ramadhan di puncak gunung, berubah menjadi, misi Merah Putih ke gunung Sumbing.
Sabtu, 16 agustus 2008….
Susah banget mendapat kepastian dari temen-temen yang mau diajak naik gunung. Hari ni jam 13.00 kita udah harus berangkat. Aan yang tadinya gak jadi pergi karena alasan gak ada dana, tiba-tiba malam tadi datang ke kost, konfirmasi kalo dia jadi ikut, cos ada yang mau kasi modal. Trus kalo Hardi, salah satu anggota three brother/second senior udah pasti ikut. Ilham, sang baleng (banci kaleng) yang mungkin udah pegel kupingnya denger kata-kata banci terus, akhirnya juga mau ikut. Ichal, first junior kita di Sindoro gak ikut karena takut sama tantenya. Nah, sekarang tinggal salah satu anggota three brother/third senior (Hendri), mau ngasi kepastian jam 10.00 pagi ini. Akhirnya dia gak jadi ikut. Padahal, kita sebelumnya udah pernah janji, kalo salah seorang dari anggota three brother gak setuju, berarti kita gak jadi. Tapi apa boleh buat, dari pada anak-anak yang laen pada kecewa karena udah siap-siap. Maaf ya Hen, kita pergi tanpa kamu.
Pic. Persiapan di kosan Ilham
Jam 12.00, selesai sholat zhuhur kami berangkat. Base point di tempat Hardi. Dah nyampe di sana, udah ada Aan, mas Iwan (Aans Friend), dan Ilham. Nunggu Hardi datang lama banget, katanya dia ke tempat abangnya minjem camera. Lama-lama ditunggu, trus dia datang, eeeh… gak tau diri, disuruh nunggu dia mandi lagi… cape deh…
Jam 13.30, kami ber – 5 (Aku, Hardi, Ilham, Aan dan mas Iwan) berangkat ke terminal Jombor pake motor trus motornya dititipkan di penitipan motor dekat terminal. Naik bus jurusan Magelang. Aku sempet ketiduran di perjalanan. Sampe di terminal Magelang, nyambung lagi pake bus kecil ke desa Garung, tempat pos pendakian gunung sumbing. Kalo mau naek gunung Sindoro, kita turun di desa Kledung, sebelah kanan jalan. Nah, desa Garung di depannya lagi, tapi di sebelah kiri jalan. Di perjalanan, sudah terlihat wujud gunung yang akan kami daki, subhanallah, kerennya. Ntar lagi, InsyaAllah kita akan berada di atas sana.
Sore jam 16.30, seturunnya dari bus, kita berjalan sekitar satu kilometer menuju basecamp pendakian, nama pengelolanya Stick Pala, mengurus segala administrasi. Jam 18.20 setelah selesai sholat Maghrib, pemanasan sebentar dan… petualanganpun dimulai…
Pic. Pemanasan sebelum memulai pendakian
Jam 19.00. ada dua rute untuk sampai ke puncak, rute lama dan rute baru. Karena seperti biasa, kami memilih rute yang lebih mudah, yaitu rute baru. Perjalanan menanjak udah mulai terasa saat melewati perkebunan tembakau milik penduduk. Jalan pasir berdebu dengan sedikit tangga-tangga tanah yang sengaja dibuat. Karena medan yang sangat ngetrack (menanjak, pendaki sering memakai kata-kata ini), kita sering istirahar untuk menghela nafas yang ngos-ngosan. Apalagi perokok kayak Hardi, sudah bakalan kehabisan nafas.
Karena momen tujuh belasan, banyak pendaki yang juga ikut naik, bahkan di perjalanan, tak jarang kami berpapasan dengan pendaki. Ada yang naik, ada juga yang mau turun. Trus, anehnya lagi, waktu ada yang turun, kita tanya,”dah mau turun mas?”, “iya, mau pindah ke Sindoro”. Whatsss? Gak capek apa, gila tuh orang…..
Pic. Istirahat di perjalanan
Cuaca malam itu sangat bersahabat, bahkan kami tidak membutuhkan penerangan buatan untuk menerangi jalan. Bulan purnama begitu terang menyinari langkah kaki sang petualang. Denger-denger malam ini mau ada gerhana bulan separoh. Pantesan bulan terlihat terang benderang. Lumayan, menghemat batere senter.
Di tengah perjalanan, sampailah kita pada sebuah tugu in memoriam, tugu yang sengaja dibuat untuk mengenang petualang yang gugur di pendakian, bertuliskan nama Tri Antono, wafat tahun 2006, dari sahabatmu Anthok. Aku terharu, begitu setianya seorang sahabat. Aku salut, pada petualang sejati itu…
Saling susul-menyusul antar pada pendaki. Jam 12.00 sampai di sebuah punggung gunung yang di peta di kasi nama Pestan (pasar setan). Kami memutuskan untuk beristirahat karena sudah terlalu capek. Untuk menghindari terpaan angin, karena kami tidak membawa tenda, kami berlindung di lobang-lobang yang menyerupai parit perang yang biasanya dilewati air kalo terjadi hujan. Di sanalah kami istirahat dan tidur.
Pic. Istirahat di Pasar Setan
Jam 03.00 dinihari, kami bangun dan melihat bulan di langit sana separoh, ya… gerhana bulan. Sungguh takjub aku melihatnya. Sungguh momen yang tak terlupakan. Sayang, kameraku gak cukup sempurna untuk mengabadikan pemandangan yang langka itu. Jam 04.00, masih setengah mengantuk, kami melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan bisa sampai di puncak sebelum sunrise. Ternyata jalan ke puncak masih sangat jauh, mana perut udah mulai kelaparan. Sampai di sebuah batu besar yang dinamakan Watu Kotak, kamipun beristirahat lagi dan memasak air untuk bikin mie instant.
Susah banget buat nyalain kompor, angin berhembus sangat kencang. Dengan sangat terpaksa, kami menikmati sunrise di sana saja. Gak begitu kelihatan, terhalang oleh punggung gunung. View dari sini gak bagus….
Pic. Nyantai-nyantai di Puncak
Jam 05.30, selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Medan yang tadinya berupa pasir berdebu, berubah menjadi bukit bebatuan yang terjal dan sangat labil. Harus hati-hati mendakinya agar batu tidak menggelinding ke bawah yang mana di belakang masih banyak teman kita yang mendaki. Dari semua gunung yang pernah kudaki sebelumnya, ini merupakan yang paling sulit dan berbahaya sampai sejauh ini.
Jam 08.00, akhirnya sampai di puncak gunung Sumbing (3371 mdpl). Puncak tertinggi yang berukuran kira kita 10 x 10 meter penuh sesak oleh para pendaki. Ada yang tidur, ada yang makan, ada yang duduk-duduk. Pemandangan dari atas sini juga sangat bagus. Selain gunung Sindoro yang terlihat sangat jelas, ada juga gunung-gunung lain yang muncul di atas awan. Ada gunung Ungaran, gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Lawu dan lainnya. Pokoknya susah buat nerangin dengan kata-kata betapa indahnya alam ciptaan tuhan ini. Dan bendera sangsaka merah putih pun dikibarkan, pertanda misi Merah Putih telah sukses.
Pic. Pengibaran Bendera Di Puncak Gunung Sumbing
Ini kisahku, apa kisahmu?
(Visited 4 times, 1 visits today)

1 thought on “Pasir Berbisik Gunung Sumbing”

Leave a Reply to Anonim Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *