Pengalaman Yang Disalahartikan

Suatu ketika saya mendapatkan tawaran untuk pengecekan sebuah bangunan dari seorang teman. Supaya lebih asik, saya buat dalam bentuk percakapan saja ya.

Berikut percakapannya:

Teman: “Bisa bantu untuk pengecekan struktur baja ini, bro?”

Saya: “Bisa, bro. Ada gambarnya kan?”

Teman: “Ada. Struktur sederhana kok”

Saya: “Boleh saya lihat dulu gambarnya?”

Lalu dia mengirimkan gambarnya.

Setelah saya cek, ternyata cukup sederhana. Saya pikir, ini mah 1 atau 2 jam juga kelar. Kemudian saya hubungi dia lagi.

Saya: “Aku udah cek bro, ini bisa aku kerjakan”

Teman: “Bayar gak?”

Saya: “Ini project amal atau untuk bisnis kamu, hehehe?” (saya berbasa basi, kalau project amal kan bisa diketahui dari bangunannya, misal bangunan tempat ibadah dan sarana umum, tapi ini pasti bisnislah…)

Teman: “hehehe, berapa bro biaya jasanya?”

Saya: “Sekian bro” (karena tergolong mudah, saya kasi fee paling ramah)

Teman: “Mahal amat bro, kan gampang ngeceknya. Kasi harga teman lah!”

Saya: “Hehehe, kalau harga teman biasanya lebih mahal bro. Kan kamu sudah ngerti kerjaanku gimana, kita sudah lama temenan, Hahaha. Bener, ini gak mahal kok. Standar lah itu.”

Teman: “Iya, kan gampang itu bagi kamu, kan udah berpengalaman, paling 1 atau 2 jam juga kelar kalau kamu cek”

Saya sudah mulai berpikir, ini teman apa bukan sih?. Mau minta gratis ya bilang saja dari awal, jangan sok berbisnis.

Saya:“…………………….” (diam)

Teman: “Itu kan bisa kamu cek pakai software kamu itu, sayang aku gak punya software nya, kalau aku punya, sudah aku kerjain sendiri”

Saya malah tambah kesal kalau begini. Lalu saya kembalikan saja omongannya.

Saya: “Oh, dengan senang hati. Untuk software itu kan ada trialnya, kamu bisa donlod sendiri kalau mau, ini linknya”

Teman: “Terimakasih”

Saya: “Sama-sama”

Hendaknya itu juga yang kita lakukan ke orang lain jika kita meminta bantuan soal bisnis, harus punya etika. Bisnis ya bayar. Jangan mau untung sendiri.

Namanya bisnis tentu ada fee. Kami tidak kerja sendiri, ada tim yang harus dibayar keringatnya.

Betul yang dia katakan, jika dikerjakan oleh orang yang berpengalaman, pekerjaan itu sangat mudah.

Tapi itu adalah konsekuensi dari pengalaman.

Pengalaman lahir dari proses yang panjang, pekerjaan berulang-ulang. Tidak datang dalam semalam.

Itu yang harus dihargai. Bukan sebaliknya, karena sudah berpengalaman malah dianggap bisa lebih murah. Logikanya dimana?

Harusnya merasa diuntungkan karena dikerjakan oleh orang yang berpengalaman. Jadi pasti dilakukan dengan benar.

Teman yang seperti ini sebaiknya dijadikan teman saja, bukan jadi partner bisnis.

Pernah punya pengalaman seperti itu? Bagaimana perasaan kalian?

Isi kolom komentar di bawah ya! Silakan share jika ada teman yang seperti itu. ^_^

(Visited 66 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.