Puncak Pertama Gunung Sindoro

Pic. Puncak Sindoro
Lihat videonya DISINI…
SEMANGAT petualangan itu muncul kembali disela-sela kesibukan kami di bangku kuliah. Three Brothers adalah aku, Hardi dan Hendri. Tiga orang pemberani yang suka petualangan. Kami sudah berikrar, kalo semua dari kita udah setuju mau naik gunung, baru itu bisa dilaksanakan. Gak peduli orang lain.
Sehari menjelang keberangkatan…
 pic. ichal
Aku susah payah merayu Ichal untuk ikut bertualang mendaki gunung Sindoro bersama kami. Tapi dia selalu banyak alasan untuk tidak ikut. Acara keluargalah, larangan tantenya lah… apapun itu, aku menganggap itu hanya alasan yang dibuat oleh banci. Aku berusaha meyakinkannya. Finally, dia juga punya muka. Dia tak mau dibilang banci.
Jum’at, 25 Januari 2008…
Selesai imam di mesjid mengucapkan salam yang kedua, aku bergegas menuju kamar kosku yang jaraknya cuma 1 meter dari mesjid. Barang-barang yang akan dibawa sudah kupersiapkan. Kali ini carrierku lebih besar dan berat dari sebelumnya, persiapannya lebih matang dari sebelumnya juga, kali ini kami bawa tenda.
 pic. mendirikan tenda karena hujan
Kupacu si Oneng, motor kesayanganku melintasi jalan sardjito menuju jalan magelang yang saat itu sangat panas terik. Tiba di tempat Hendri, tempat yang sudah kita sepakati untuk berkumpul sebelum berangakat. Karena akses ke terminal Jombor lebih dekat dari sana. Aku, Hendri, Hardi, dan Ichal berangkat menuju terminal Jombor.
Dari terminal Jombor, kami naik bus menuju magelang dan nyambung bus lagi menuju Kledung. Kledung, sebuah daerah kecil yang dingin dan diapit oleh dua buah gunung, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Sekitar jam 7 malam, kami tiba di basecamp. Beristirahat sejenak….
Jam 8 malam, kami memulai pendakian. Melewati jalan setapak berbatu melintasi perkebunan sayur penduduk desa. Kilat di langit sesekali menyambar, dan membuat jalanan terang untuk beberapa detik. Cuaca tidak mendukung. Tanpa ragu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Setelah jauh berjalan, sampai di pos I. ternyata benar, hujan turun sedikit deras. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana sembari menunggu hujan reda. Ketiduran karena lelah, akhirnya bangun sekitar jam 2 dinihari. Kami kembali melanjutkan perjalanan.
Sabtu, 26 Januari 2008…
Melintasi dedaunan yang basah karena hujan tadi, membuat sepatu dan celanaku ikut basah, aku gak bawa celana ganti. Setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami kembali beristirahat mendirikan tenda di sebuah tempat yang cukup datar. Bangun ketika pagi dikala mentari masih malu-malu menampakkan mukanya. Sunrise yang indah.
Pakaian yang tadi basah kami jemur di terik panas. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan lagi. Ini sungguh berat, mendaki disiang hari adalah hal yang tidak menguntungkan, selain dapat dengan cepat menguras tenaga dan keringat, panasnya matahari membuat kami terlalu banyak istirahat. Banyak minum, membuat persediaan air kami menipis. Gak seperti di Merbabu, disini kamu tidak akan menemukan saluran air atau mata air, yang ada hanya air mata.
Dah sampai mana ini cal? Hutan lamtoro, meski gak tau pasti pohon lamtoro itu seperti apa. Jika benar udah di hutan lamtoro, berarti sedikit perjalanan lagi udah sampai puncak, seperti yang terlihat pada peta yang kami bawa. Semangat kembali muncul, meski udah capek banget.
Saat lagi asik-asiknya istirahat di bawah pohon yang teduh, tiba-tiba gerimis. Cepat-cepat kami naik ke atas, mencari tempat yang datar untuk mendirikan tenda. Saat itu udah agak sore sekitar jam 16.30 wib. Di luar tenda terlalu dingin, membuat kami gak mau keluar dan betah di tenda. Karena hampir kehabisan air minum, jas hujan yang ku bawa kujadikan untuk menampung air hujan untuk di masak. Benar-benar Survive.
 pic. tenda di dekat puncak
Minggu, 27 Januari 2008…
Dehidrasi, kehausan, kami rasakan ketika tidur malam itu. Sengaja kami gak melanjutkan perjalanan, karena menunggu bantuan datang. Mudah-mudahan yang ditunggu-tunggu datang. Ya, Mas Pur n The gank yang katanya juga mau naik Sindoro hari sabtu. Kami kan udah mendaki sangat lambat, kenapa mereka gak bisa mendahului kami. Putus asa menunggu mereka.
 pic. sunrise gunung sindoro
Dini hari sekitar jam 5, ada 4 orang pendaki yang lewat depan tenda kami. Mas Pur? Ternyata bukan. Kok mereka berhenti di sana, sekitar seratus meter dari tenda kami, membuat perapian. Kami memutuskan untuk mendekati dan berkenalan, alasannya sih cuma mau nebeng menghangatkan badan. Hehe,.. tanya-tanya, ternyata puncaknya Cuma sekitar ½ kilometer dari tenda kami. Tanpa membawa barang apapun, kami berempat meninggalkan tenda dan menuju puncak. Gak boleh gagal untuk kedua kalinya setelah di Merbabu gagal mencapai puncak. Inilah saatnya….
 pic. hardi kecapaian
Haus dan lelah setelah berjalan selama 2 hari seketika itu terbayar dengan pemandangan sunrise yang indah di puncak Sindoro. Subhanallah….indahnya alam ciptaan tuhan ini.
Jam 7 pagi, setelah sarapan seadanya… kami beranjak turun. Diperjalanan turun, banyak kami temui para pendaki yang mendirikan tenda. Akhirnya… bertemu juga dengan mas Pur dan teman-teman. Air… air… air… 2/3 botol air minum menjadi bekal perpisahan kami dengan mereka yang akan baru mau naik puncak. Lanjutkan perjalannanmu, nak!…
Perjalanan turun menuju basecamp masih sangat jauh. Air minum kali ini benar-benar udah abis. Cerita di perjalanan seputar es teh, es susu, dan es syrup, membuat aku dan teman-teman jadi ngiler. Sampai kita semua punya cita-cita kecil. Saat itu cita-cita kecilku adalah “aku cuma mau minum es syrup”.
Akhirnya kesampaian juga. Kami sampai di Jogja lagi dengan selamat…
(Visited 3 times, 1 visits today)

1 thought on “Puncak Pertama Gunung Sindoro”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *