Tutorial Rapling

Pic. Hardi membantu Kity memasang webing
Ngabuburit atau menunggu saat-saat berbuka puasa sepertinya sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Kita bisa melakukan banyak hal ketika ngabuburit. Misalnya: berbelanja makanan berbuka, nyantai-nyantai di depan rumah, atau sekedar jalan-jalan mencuci mata (cuci mata pake air dong J), selama tidak ada agenda makan kuaci atau melakukan hal-hal lain yang membatalkan puasa, itu sah-sah saja.
Pic. di atas jembatan air
Pic. Mas Wahyudin in action
Lain halnya apa yang dilakukan oleh MAPADIPSI (Mahasiswa Pencinta Alam Diploma Sipil –UGM). saya termasuk salah satu anggotanya (walaupun Cuma ngaku-ngaku J), mereka melakukan hal yang diluar pada umumnya yang manusia biasa lakukan. Bukannya santai-santai menunggu saat bebuka puasa, eh mereka malah melakukan Rapling (turun pake tali—penulis) dari ketinggian menuju kerendahan.
Pic. Kity in action
Spot/titik peraplingan kali ini adalah sebuah jembatan air (yang aslinya merupakan talang air selokan Mataram, Jogja) di daerah Babarsari, Jogja. Menemukan lokasinya tidaklah sulit, cukup menyusuri selokan Mataram saja. Jembatan/talang air ini mempunyai tinggi sekitar ruko enam lantai (1 lantai lebih kurang 3,5 meter, itung sendiri ya, tinggal dikalikan empat) yaelah, gitu aja susah, gini ya >> 6 x 3,5 = 21 meter. Udah ngerti?
Pic. Aan & Hendri
Pic. Hardi in action
Gak ada yang istimewa dengan Rapling, hanya orang-orang yang fobia ketinggian yang mengatakannya istimewa. Saya juga ini baru pertama kali. Kalo tak ingat pepatah : “Hidup Cuma sekali, jangan buat gak berarti”, saya juga tak akan melakukannya. Saya kasih tahu ya, hidup itu terlalu singkat untuk dilewati dengan pilihan yang salah. (yang barusan tak ngerti apa maksudnya J).
Pic. Aan berbuka, padahal gak puasa
Pic. berbuka puasa bersama
Pic. berbuka alakadarnya
Saya tidak mencari sensasi dengan melakukan Rapling, saya Cuma mencari Ridho Allah swt. (mumpung lagi bulan puasa J). Mesti sempat menyelinap rasa takut dalam dada, tapi dapat segera kutepis dengan pepatah sakti tadi (tak lupa berdoa kepadaNya).
Mentor Rapling bilang “percaya saja sama tali dan sistemnya!, kamu akan selamat”
Pikir saya “musyrik dong saya percaya sama tali, saya percaya hanya sama Allah swt. J”
Senja itu ditutup sempurna dengan bedug magrib pertanda waktu berbuka puasa telah tiba dan indahnya awan sore di Jogjakarta.
Pic. Senja di Babarsari
Ini kisahku, apa kisahmu?
(Visited 2 times, 1 visits today)

4 thoughts on “Tutorial Rapling”

  1. huahahahahahahahhahahahah…..
    sumpah kak… aku ngakak pas liat fotonya…
    hahhahahha… aseli…!! hehehehehe

    jadi inget waktu pertama kali ikut di hm… 😀
    masa2 awal kuliah yg takkan terlupakan

Leave a Reply to Afret Nobel Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *