Beton hijau adalah inovasi material konstruksi ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah industri sebagai substitusi sebagian semen Portland. Dua jenis limbah utama yang banyak diteliti adalah fly ash (abu terbang PLTU batubara) dan slag (terak tanur tinggi industri baja).
Pemakaian kedua material ini tidak hanya menekan konsumsi semen konvensional—yang sangat tinggi emisi karbonnya—tetapi juga memberi solusi pemanfaatan limbah dalam jumlah besar.
Laporan ini merangkum perkembangan teknologi beton hijau di Indonesia 2020–2025 dari tujuh aspek: komposisi material, performa teknis, dampak lingkungan, regulasi, aspek ekonomi, studi kasus implementasi, serta inovasi dan tantangan.
1. Komposisi Material
-
Fly ash (abu terbang PLTU):
-
Berbentuk partikel sangat halus (<100 µm), kaya oksida silika (SiO₂), alumina (Al₂O₃), dan besi (Fe₂O₃).
-
Diklasifikasikan menjadi Kelas F (CaO rendah, sifat pozzolan murni) dan Kelas C (CaO tinggi, pozzolan + sedikit semen hidraulis).
-
Di Indonesia, fly ash umumnya Kelas C karena berasal dari batubara sub-bituminus.
-
Potensi produksi mencapai jutaan ton/tahun; namun pemanfaatannya masih terbatas.
-
-
Slag (GGBFS – ground granulated blast furnace slag):
-
Sisa pendinginan cepat lelehan bijih besi, berbentuk bubuk amorf mirip semen.
-
Komposisi dominan CaO (30–50%), SiO₂ (28–38%), dan Al₂O₃ (8–24%).
-
Bersifat latent hydraulic—reaktif bila dicampur semen atau aktivator alkali.
-
Di Indonesia, sumber utama dari PT Krakatau Posco (Cilegon). Kapasitas pengolahan sekitar 690 ribu ton/tahun.
-
Ketersediaan fly ash lebih melimpah dibanding slag, namun keduanya berpotensi besar menggantikan sebagian kebutuhan klinker semen nasional.

2. Performa Teknis
-
Kekuatan Tekan: Beton dengan 20–30% fly ash atau slag memiliki kuat tekan setara beton konvensional pada umur 28 hari. Pada umur panjang (>90 hari), bahkan bisa lebih tinggi.
-
Durabilitas: Lebih tahan terhadap klorida, sulfat, serta penetrasi air karena porositas lebih rendah.
-
Workability: Fly ash berbentuk bulat halus memberi efek ball bearing sehingga beton lebih mudah diaduk dengan air lebih sedikit.
-
Panasi Hidrasi: Lebih rendah, sehingga cocok untuk pengecoran volume besar (bendungan, fondasi masif).
-
Kelemahan: Kuat awal lebih lambat (0–7 hari), tapi dapat diatasi dengan akselerator, gypsum tambahan, atau steam curing.
3. Dampak Lingkungan
-
Produksi 1 ton semen OPC = ±0,9 ton CO₂.
-
Substitusi 20–30% semen dengan fly ash/slag mampu memangkas emisi 10–22%.
-
Campuran dengan 70% fly ash/slag dapat mengurangi emisi hingga 70–80%.
-
Selain emisi, penggunaan SCM mengurangi eksploitasi bahan baku alami, menekan konsumsi energi termal, dan mencegah penumpukan limbah di TPA.
4. Regulasi dan Standar
-
SNI 2460:2014 → Standar fly ash untuk beton (adopsi ASTM C618).
-
SNI 6385:2016 → Standar semen slag (adopsi ASTM C989).
-
SNI 2847:2019 → Kode desain beton, mengakui pemakaian SCM.
-
PP 22/2021 → Fly ash dan bottom ash (FABA) tidak lagi dikategorikan limbah B3, sehingga pemanfaatannya lebih fleksibel.
Kerangka regulasi Indonesia semakin kondusif untuk adopsi beton hijau.
5. Aspek Ekonomi
-
Efisiensi biaya: Fly ash sering tersedia gratis (hanya biaya angkut), slag lebih murah dibanding semen OPC.
-
Penghematan rata-rata: Rp50–60 ribu/m³ (sekitar 5–10% biaya beton) untuk substitusi 30%.
-
Umur layanan lebih panjang: Beton slag/fly ash lebih tahan lama → biaya perawatan lebih rendah.
-
Nilai tambah: Mendukung sertifikasi hijau (LEED/Greenship), meningkatkan daya saing proyek.
6. Studi Kasus Implementasi
-
Indonesia:
-
Jembatan Pulau Laut (2025) – memakai 1.224 ton fly ash dari PLTU Asam-Asam.
-
WSBP (2023–2025) – produk pracetak tol Bocimi, LRT Jakarta, tol Semarang-Demak menggunakan campuran fly ash.
-
PT Krakatau Semen – produksi semen slag untuk proyek dermaga dan pelabuhan.
-
-
Internasional:
-
One World Trade Center (AS, 2013) – beton >90 MPa dengan fly ash + slag.
-
HS2 Euston Station (UK, 2022) – pengecoran 232 m³ beton geopolimer tanpa semen, hemat 76 ton CO₂.
-
7. Inovasi dan Tantangan
Tantangan:
-
Variasi mutu fly ash antar-PLTU.
-
Persepsi negatif karena dianggap limbah berbahaya.
-
Keterbatasan teknis (kuat awal lambat).
-
Logistik distribusi material.
Inovasi:
-
Ternary blend (semen + fly ash + slag/silica fume/limestone powder).
-
Chemical accelerators & steam curing untuk mempercepat reaksi awal.
-
Beton geopolimer (100% bebas semen OPC).
-
Pemanfaatan nano-silika & serat untuk meningkatkan performa mikrostruktur.
Kesimpulan
Beton hijau berbasis fly ash dan slag adalah solusi nyata menuju konstruksi rendah karbon di Indonesia. Potensi pasokan limbah melimpah, regulasi semakin mendukung, dan bukti lapangan sudah tersedia. Dengan inovasi berkelanjutan dan sinergi antarindustri, beton hijau dapat menjadi pilar utama transisi menuju pembangunan infrastruktur berkelanjutan.






