Penjelasan Lengkap Sistem Shoring (Propping) dalam Pengecoran

4 min read

Dalam dunia konstruksi bangunan, proses pengecoran menjadi salah satu tahap krusial yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu elemen yang turut berperan dalam memastikan keberhasilan pengecoran adalah sistem shoring atau propping.

Berdasarkan pengalaman yang telah saya alami selama berkecimpung di industri teknik sipil, berikut akan saya bahas secara komprehensif tentang apa itu sistem shoring atau propping, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa hal ini sangat penting dalam konstruksi modern.

Mengenal Sistem Shoring

shoring-propping

Dalam ilmu konstruksi, sistem Shoring adalah metode yang digunakan untuk memberikan dukungan tambahan pada struktur bangunan selama proses pengecoran beton. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan kestabilan dan keamanan struktur sementara beton masih dalam keadaan segar dan belum mengeras sepenuhnya.

Dalam istilah yang lebih sederhana, sistem shoring atau propping dapat diibaratkan sebagai “tongkat penyangga” yang ditempatkan di bawah struktur yang sedang dalam tahap pengecoran.

Hal ini dilakukan agar beban beton yang sedang dicor dapat didistribusikan secara merata ke seluruh bagian struktur. Dengan kata lain, sistem ini berfungsi sebagai penopang temporary yang membantu mencegah terjadinya kecelakaan atau kerusakan pada struktur bangunan.

Penting untuk dicatat bahwa penggunaan sistem shoring ini bersifat sementara dan akan dihapus setelah beton mencapai kekuatan yang cukup untuk menopang beban sendiri.

Dengan demikian, sistem shoring berkontribusi secara krusial dalam memastikan bahwa proses pengecoran berlangsung dengan aman dan hasilnya memenuhi standar kekuatan dan kestabilan yang diinginkan.

Secara umum, sistem shoring atau propping memberikan jaminan bahwa beban dari beton yang sedang dalam proses pengerasan dapat didukung dengan baik, mencegah terjadinya deformasi atau kegagalan struktural. Pendekatan ini juga memberikan keamanan tambahan bagi para pekerja konstruksi yang beroperasi di sekitar area pengecoran.

Dengan kata lain, sistem shoring atau propping adalah solusi sementara yang diterapkan dalam konstruksi untuk memastikan bahwa setiap tahap pengecoran beton berjalan dengan baik, aman, dan menghasilkan struktur bangunan yang kokoh.

Mengapa Sistem Shoring Penting?

gambar peralatan propping
Contoh gambar peralatan propping

Sistem shoring memainkan peran yang sangat penting dalam mengoptimalkan distribusi beban, mengurangi risiko kecelakaan, dan memastikan hasil pengecoran yang berkualitas dalam proyek konstruksi. Berikut adalah cara sistem shoring memberikan kontribusi positif dalam hal tersebut:

  1. Distribusi Beban yang Merata: Sistem shoring dirancang untuk memberikan dukungan struktural pada beton yang baru dicor. Dengan menyediakan penopang tambahan di bawah area yang sedang dalam proses pengecoran, beban dari beton tersebar dengan merata. Hal ini mencegah terjadinya penumpukan beban yang tidak merata di sepanjang struktur, yang dapat menyebabkan kelemahan atau deformasi pada beton.
  2. Mengurangi Risiko Kecelakaan: Penggunaan sistem shoring dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan di lokasi konstruksi. Dengan menyediakan penopang yang stabil, para pekerja dapat bekerja dengan lebih aman di sekitar area pengecoran. Risiko robohnya struktur beton atau kecelakaan lainnya dapat diminimalkan, memberikan lingkungan kerja yang lebih aman bagi semua pihak yang terlibat.
  3. Mengoptimalkan Proses Pengecoran: Dengan menyediakan dukungan struktural yang tepat pada saat pengecoran berlangsung, sistem shoring membantu memastikan bahwa beton dapat terdistribusi secara merata dan dengan baik. Hal ini mengoptimalkan proses pengecoran, menghasilkan struktur yang kuat dan konsisten. Distribusi beban yang baik juga memastikan bahwa struktur beton dapat menahan tekanan yang dihadapinya, sehingga mencegah retak atau kerusakan lainnya.
  4. Pemeliharaan Bentuk yang Diinginkan: Sistem shoring membantu dalam mempertahankan bentuk yang diinginkan dari struktur beton selama proses pengecoran dan pengerasan. Dengan memberikan dukungan yang tepat pada titik-titik kritis, sistem ini mencegah terjadinya pergeseran atau deformasi yang tidak diinginkan selama beton masih dalam keadaan segar. Hal ini mendukung terciptanya hasil akhir yang memenuhi standar desain dan estetika yang diinginkan.
  5. Penyesuaian dengan Berbagai Desain Struktur: Sistem shoring dapat disesuaikan dengan berbagai jenis desain struktur, baik yang kompleks maupun sederhana. Fleksibilitas ini memungkinkan para insinyur dan kontraktor untuk menggunakan sistem shoring dalam berbagai konteks konstruksi sesuai dengan kebutuhan proyek. Dengan demikian, sistem ini menjadi solusi yang efektif untuk berbagai jenis proyek konstruksi.

Dengan memahami bagaimana sistem shoring bekerja untuk mengoptimalkan distribusi beban, mengurangi risiko kecelakaan, dan memastikan hasil pengecoran yang berkualitas, para profesional konstruksi dapat memanfaatkan teknologi ini secara maksimal untuk meningkatkan keberhasilan proyek mereka.

Implementasi yang tepat dari sistem shoring tidak hanya meningkatkan efisiensi konstruksi tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap keamanan dan kualitas hasil akhir.

Contoh Implementasi Perhitungan Shoring (Propping)

Studi Kasus: “Pengecoran 2,5 lantai dengan Propping 2,5 Lantai”

Seorang designer formwork akan menghitung siklus pengecoran muali dari podium hingga tower dengan gambaran diagram sebagai berikut:

contoh Shoring Propping
Via: konsultanbekisting.wordpress.com

Alur Kerja:

  1. Instalasi Formwork: Tahap pertama adalah pemasangan bekisting atau formwork. Formwork adalah struktur sementara yang memberikan bentuk pada beton yang akan dicor. Ini seperti “mold” yang membentuk beton sesuai dengan desain gedung. Instalasi formwork ini merupakan langkah awal yang menentukan bentuk akhir dari struktur beton.
  2. Pengecoran Beton: Setelah formwork terpasang dengan baik, langkah selanjutnya adalah pengecoran beton. Beton dicurahkan ke dalam formwork secara hati-hati, memastikan bahwa semua area terisi dengan merata. Pengecoran beton ini merupakan tahap krusial untuk membentuk dinding, lantai, atau struktur gedung lainnya.
  3. 2 Hari Setelah Pengecoran: Sekitar dua hari setelah pengecoran, beton telah mencapai kekuatan yang memadai untuk menahan beban sendiri. Pada tahap ini, formwork masih dipertahankan untuk memberikan dukungan tambahan dan mencegah beton mengalami deformasi sebelum mencapai kekuatan optimal.
  4. Pemindahan Formwork: Setelah melewati periode 2 hari, formwork dapat dipindahkan. Ini dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan pada beton yang masih dalam proses pengerasan. Pemindahan formwork memungkinkan pekerjaan lebih lanjut dilakukan pada struktur beton yang telah membentuk bentuk awalnya.
  5. Repropping: Pada tahap ini, sistem shoring atau propping dapat diterapkan kembali untuk memberikan dukungan tambahan pada area-area yang memerlukan. Repropping bertujuan untuk memastikan bahwa struktur beton tetap stabil dan terhindar dari risiko kecelakaan atau perubahan bentuk yang tidak diinginkan.

Mekanisme Kerja Sistem Shoring

pemasangan propping

Mekanisme kerja sistem shoring merupakan inti dari bagaimana metode ini berfungsi untuk memberikan dukungan pada struktur selama proses pengecoran beton.

Proses ini memerlukan presisi dan perencanaan yang cermat agar hasilnya dapat memenuhi standar keamanan dan kekuatan yang diinginkan. Berikut adalah rincian mekanisme kerja sistem shoring:

  1. Penentuan Titik Penopangan: Pertama-tama, dalam mekanisme kerja sistem shoring, titik-titik kritis di bawah struktur yang akan dicor ditentukan. Ini melibatkan identifikasi area di mana beban beton diperkirakan akan paling besar. Titik-titik ini menjadi lokasi utama di mana penopang atau shoring akan ditempatkan.
  2. Pemilihan Jenis Shoring yang Tepat: Setelah titik penopangan ditentukan, pemilihan jenis shoring yang sesuai menjadi langkah berikutnya. Berbagai jenis shoring tersedia, termasuk shoring tubular, shoring beam, dan shoring kolom, yang masing-masing memiliki kegunaan dan kelebihan tersendiri. Pemilihan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan desain struktur yang sedang dibangun.
  3. Penempatan Shoring: Shoring ditempatkan di bawah struktur pada titik-titik yang telah ditentukan. Posisi shoring harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menopang beban secara efektif dan merata. Proses penempatan shoring ini melibatkan perhitungan matang untuk memastikan distribusi beban yang optimal.
  4. Pemantapan dan Penyesuaian: Setelah shoring ditempatkan, tahap pemantapan dan penyesuaian dilakukan. Ini mencakup proses mengunci atau memperkuat posisi shoring agar tetap stabil selama pengecoran berlangsung. Pemantapan juga bertujuan untuk menghindari pergeseran yang tidak diinginkan selama proses pengecoran.
  5. Pemantauan Selama Proses Pengecoran: Mekanisme kerja sistem shoring juga melibatkan pemantauan terus-menerus selama proses pengecoran berlangsung. Para ahli konstruksi dan insinyur akan memantau kondisi shoring dan memastikan bahwa setiap perubahan atau ketidakstabilan segera diatasi. Ini dapat melibatkan penyesuaian ulang atau penambahan shoring jika diperlukan.
  6. Penghapusan Setelah Beton Mengeras: Seiring berjalannya waktu dan beton mencapai kekuatan yang cukup, shoring secara bertahap dihapus. Proses penghapusan ini harus dilakukan secara hati-hati dan terencana untuk menghindari deformasi atau ketidakstabilan yang dapat terjadi jika shoring diangkat terlalu dini.

Baca Juga :
related Mengenal Jenis Jenis Pondasi Bangunan
related Mengenal Apa itu Batching Plant

Dengan demikian, mekanisme kerja sistem shoring mencakup tahap perencanaan, penentuan lokasi penopangan, pemilihan jenis shoring, penempatan yang tepat, pemantapan, pemantauan selama pengecoran, dan penghapusan setelah beton mengeras.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, sistem shoring dapat bekerja secara efektif dalam mendukung struktur selama proses krusial pengecoran beton. Itulah uraian lengkap mengenai sistem shoring (Propping) dalam pengecoran beton yang bisa Tekniksipil.id sajikan. Semoga bisa membawa manfaat!

Azka BIM coordinator project PT Hutama Karya Infrastruktur, Finalis Kompetisi Jembatan Indonesia 2017 dan peraih peringkat kedua dalam PII BIM Awards 2022 yang ingin berbagi pengalaman dan wawasan keilmuan melalui platform website.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *