Mengenal Lebih Dalam tentang BIM Protocol dan Implementasi dalam Proyek

2 min read

Ketika berurusan dengan Building Information Modeling (BIM), penting bagi kita untuk memastikan agar tidak terjebak dalam melakukan BIM yang berlebihan atau kurang sehingga tujuan utama proyek tidak tercapai.

Untuk menjaga agar proses kolaborasi dan pekerjaan berjalan sesuai dengan yang diharapkan, diperlukan adanya protokol dan standar yang diakui bersama.

Protokol BIM, yang sering disebut sebagai BIM Protocol, merupakan sebuah perjanjian hukum tambahan yang terstandarisasi. Protokol ini dapat dimasukkan ke dalam perjanjian layanan profesional dan kontrak konstruksi dengan melakukan amandemen sederhana.

Apa itu BIM Protocol?

Protokol BIM

BIM Protocol, atau Protokol BIM, adalah sebuah perjanjian atau kesepakatan hukum tambahan yang standarisasi, yang dimaksudkan untuk mengatur penggunaan Building Information Modeling (BIM) dalam proyek konstruksi.

Secara sederhana, BIM Protocol menetapkan aturan dan prosedur yang harus diikuti oleh semua pihak yang terlibat dalam proyek BIM untuk memastikan bahwa kolaborasi dan kerja sama berjalan lancar serta mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam BIM Protocol, akan dijelaskan secara rinci tentang berbagai hal terkait dengan penggunaan BIM dalam proyek, termasuk tanggung jawab masing-masing pihak, standar model informasi yang harus diproduksi, prosedur pertukaran data, dan lain sebagainya.

Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat memiliki pemahaman yang sama tentang bagaimana BIM akan diterapkan dalam proyek tersebut.

BIM Protocol juga berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan konflik atau perbedaan pendapat yang mungkin timbul dalam penggunaan BIM.

Dengan memiliki protokol yang jelas dan terstandarisasi, pihak-pihak yang terlibat dapat merujuk ke dalamnya untuk menyelesaikan masalah dan mencari solusi yang tepat.

Penting untuk dicatat bahwa BIM Protocol tidak hanya berlaku untuk fase desain, tetapi juga untuk seluruh siklus hidup proyek konstruksi, mulai dari perencanaan hingga pengoperasian.

Dengan demikian, penggunaan BIM Protocol menjadi kunci dalam memastikan kesuksesan implementasi BIM dalam proyek konstruksi modern.

Tujuan BIM Protocol

Mungkin terdengar membosankan, namun BIM Protocol menyimpan banyak informasi krusial terutama untuk proyek-proyek BIM. Hal ini tercermin dari tujuan utamanya, yang antara lain meliputi:

a. Memfasilitasi produksi model informasi pada tahap yang telah ditentukan

  • BIM Protocol bertujuan untuk memastikan bahwa model informasi yang relevan diproduksi sesuai dengan tahapan yang telah ditentukan dalam proyek konstruksi.
  • Hal ini membantu memastikan bahwa semua pihak terlibat memiliki akses ke informasi yang diperlukan pada setiap tahap proyek.

b. Mendukung kerja kolaboratif

  • BIM Protocol bertujuan untuk mendorong kerja sama dan kolaborasi antara semua pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi.
  • Dengan menetapkan aturan dan prosedur yang jelas, BIM Protocol membantu meminimalkan konflik dan memastikan bahwa semua pihak bekerja secara efisien bersama.

c. Menunjuk seorang Information Manager yang diperlukan:

  • Salah satu tujuan dari BIM Protocol adalah untuk menunjuk seorang Information Manager yang bertanggung jawab atas manajemen dan pengelolaan informasi BIM dalam proyek.
  • Information Manager bertindak sebagai pemimpin dalam mengatur dan memastikan integritas, keamanan, dan ketersediaan informasi yang relevan bagi semua pihak.

d. Memungkinkan pembuatan standar umum atau praktik kerja yang dijadikan persyaratan kontrak secara eksplisit:

  • BIM Protocol bertujuan untuk memungkinkan pembuatan standar umum atau praktik kerja yang dijadikan persyaratan kontrak secara eksplisit.
  • Dengan demikian, protokol ini membantu dalam memastikan bahwa semua pihak terlibat mengikuti standar yang sama dan mematuhi prosedur yang telah ditetapkan untuk menjaga kualitas dan integritas proyek konstruksi.

Standarisasi BIM Protocol

BIM Protocol

Di Inggris, standar telah dikembangkan dari dokumentasi CAD sebelumnya, yang memberikan titik awal dasar untuk standar terpadu yang kemudian dapat dengan mudah diadopsi atau dikembangkan lebih lanjut untuk implementasi dalam perusahaan yang memiliki persyaratan khusus untuk penataan data CAD mereka.

BIM Protocol saat ini dikembangkan sebagai alat untuk mengubah bentuk kontrak yang ada untuk digunakan dalam proyek BIM Level 2. Namun, industri mungkin perlu mempertimbangkan kembali struktur kontraknya saat menuju ke BIM Level 3, mengingat perubahan arus kerja yang semakin digital.

Meskipun setiap negara atau wilayah dapat memiliki BIM Protocol yang berbeda, tujuan dan prinsipnya tetap sama.

Salah satu BIM Protocol yang umum digunakan adalah Standar Protokol PAS 1192 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Inggris dan disponsori oleh CIC (Construction Industry Council). Saat ini, BIM Protocol terbaru adalah seri ISO 19650 yang telah diadopsi menjadi standar internasional dan mulai banyak digunakan secara global, termasuk di Indonesia.

Dengan demikian, penggunaan BIM Protocol, terutama ISO 19650, menjadi penting untuk memastikan kesesuaian dan keteraturan dalam proyek-proyek BIM di masa mendatang.

Stakeholder yang Terlibat dalam BIM Protocol

Protokol BIM menetapkan kewajiban dan hak tambahan bagi pemberi kerja dan pihak-pihak lain yang terlibat. Namun, penting untuk diingat bahwa protokol ini tidak mengatur hubungan antar pihak penyedia yang berbeda.

Setiap individu yang terlibat dalam produksi atau penyediaan model informasi harus memiliki BIM Protocol yang terlampir dalam kontrak mereka untuk memastikan bahwa standar dan prosedur yang sama diikuti oleh semua pihak.

Selain itu, ada dua lampiran yang biasanya ditambahkan pada BIM Protocol, yaitu: Tabel Produksi Model dan Pengiriman, yang mencantumkan model informasi yang dibutuhkan pada setiap tahap proyek, serta Persyaratan Informasi yang merinci standar manajemen informasi yang akan diterapkan dalam proyek.

Pelajari Juga Informasi Terkait Lainnya :
Apa itu BIM? Apa itu Open BIM?
Software BIM Standarisasi BIM

Penting untuk memperhatikan beberapa hal ketika menggunakan BIM Protocol, seperti memasukkan versi yang sama dari dokumen dan lampirannya dalam setiap kontrak, memperlakukan setiap perubahan sebagai variasi kontrak, dan menyertakan semua model informasi yang akan diproduksi.

Azka BIM coordinator project PT Hutama Karya Infrastruktur, Finalis Kompetisi Jembatan Indonesia 2017 dan peraih peringkat kedua dalam PII BIM Awards 2022 yang ingin berbagi pengalaman dan wawasan keilmuan melalui platform website.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *